Survey: Penyakit Menular Seksual Rentan Menginfeksi Ibu Rumah Tangga

Donny Adhiyasa, Diza Liane Sahputri
·Bacaan 2 menit

VIVA – Perempuan memiliki peran penting dalam mengambil keputusan dari segala aspek kehidupan. Namun faktanya, belum sepenuhnya seluruh perempuan benar-benar ‘merdeka’ atas pilihannya.

Dalam hal pemberdayaan misalnya, data SDKI 2017 menunjukkan bahwa masih terdapat 10 persen perempuan yang tidak memiliki keterlibatan dalam pengambilan keputusan rumah tangga.

Sedangkan dalam hal kesehatan reproduksi, survey DKT Indonesia tahun 2019 yang dilakukan pada 891 perempuan di tujuh kota besar di Indonesia mengungkapkan bahwa masih terdapat 10 persen perempuan yang tidak mendapatkan ijin dari suami untuk menggunakan alat kontrasepsi sebagai langkah perlindungan perencanaan keluarga.

"Di jaman serba modern ini, sudah saatnya perempuan sadar dan mampu untuk menentukan pilihan khususnya terkait dengan akses kesehatan seksual reproduksi secara menyeluruh. Perempuan harus berperan dalam menentukan pilihan yang terbaik untuk dirinya sendiri untuk mengurangi dampak kesehatan terhadap tubuhnya," ujar Group Product Manager DKT Indonesia, Cut Vellayati, dalam kampanye virtual #PerempuanSadarPilihan bersama Andalan, baru-baru ini.

Ditambahkan Cut Velllayati, survey lainnya menemukan bahwa 305 dari 100 ribu perempuan di Indonesia, harus kehilangan nyawa akibat hal-hal yang berkaitan dengan kehamilan maupun melahirkan. Mirisnya lagi, penyakit menular seksual malah lebih rentan menginfeksi ibu rumah tangga yang sehari-harinya beraktivitas di rumah.

"Ibu Rumah Tangga saat ini masih menjadi salah satu kelompok yang rentan terhadap infeksi HIV. Ditambah, masih terdapat 11 persen perempuan Indonesia yang belum terpenuhi kebutuhannya dalam berkontrasepsi, dikarenakan kesulitan akses terhadap kontrasepsi,” ungkap Cut menambahkan.

Dengan kondisi kesehatan itu, Deputi KB KR BKKBN, dr. Eni Gustina, MPH, menegaskan bahwa perempuan memiliki kontribusi penting untuk melahirkan generasi bangsa. Untuk itu, perempuan memiliki hak untuk menentukan apa yang terbaik untuk kesehatan reproduksinya, apalagi yang berkaitan dengan janin dalam kandungan.

“Dilahirkan sebagai Perempuan adalah anugerah. Karena perempuan berkontribusi melahirkan generasi Bangsa. Perempuan akan melahirkan generasi berkualitas ketika mereka paham akan hak reproduksinya. Perempuan berhak untuk menentukan kapan dia akan punya anak, berapa jumlah anak yang diinginkan, jarak anak dan kapan untuk tidak punya anak lagi," kata Eni di kesempatan yang sama.

Ditambahkan Eni, keputusan untuk rentang memiliki anak ada di tangan perempuan lantaran kondisi tubuh yang dimilikinya. Sebab, proses pemulihan usai hamil dan melahirkan itu memerlukan waktu yang berbeda bagi tiap perempuan dan membutuhkan kesiapan yang tepat.

"Orang hamil itu kan rahim sebesar telur ayam, kalau diisi bayi 3 kilo itu peregangannya cepat sekali. Itu mesti recovery dulu," beber Eni.

Eni berharap, pemahaman masyarakat akan rentang waktu dan kesiapan perempuan untuk bisa hamil dan melahirkan bisa memberikan generasi yang lebih baik. Untuk itu, peran suami dan keluarga terdekat sudah seharusnya mendukung calon ibu, baik dari sisi gizi maupun psikis.

"Perempuan sudah tidak anemia, rahim sudah kembali normal, baru dipersiapkan untuk hamil lagi. Jangan bapak-bapak minta sekarang hamil, tahun depan hamil lagi. Lalu kapan istirahatnya?" sambung Eni.