'Survivor' Patah Hati, Termasuk Ditinggal Pas Lagi Sayang-sayangnya

Syahdan Nurdin, voxpopid
·Bacaan 3 menit

VIVA – Duh, pacaran bertahun-tahun, tapi nikahnya sama yang lain. Padahal, sudah menemani berjuang sejak dulu bikin skripsi. Bukannya ke pelaminan, malah jadi mantan.

Halloo gaess… Katanya semacam kutukan ya, kalau nama pacar yang tertulis di skripsi, biasanya bakal jadi mantan? Disangkanya bakal tertulis juga di undangan dan buku nikah. Banyak yang nyesel gitu, mana nulisnya pakai perasaan – dirangkai dengan kata-kata semanis madu yang akhirnya sepahit empedu.

Perkara nama mantan yang tertulis di lembar skripsi, bukan di lembar undangan, dibahas juga tuh di film Sobat Ambyar. Ada bagian yang menceritakan tentang Saras yang akhirnya menikah dengan atasannya, yakni Abdul. Padahal, orang yang menemani Saras berjuang menyelesaikan skripsi dan namanya tercantum di lembar ucapan terima kasih adalah Jatmiko, pemilik kafe yang hampir bangkrut.

Tapi tenang, film yang dibuka dengan adegan konser Didi Kempot, sang Lord of Broken Heart, selagi masih hidup itu bukan hanya bercerita tentang ‘kutukan’ nama kekasih hati di skripsi, tapi banyak hal yang mungkin sederhana tapi sarat makna.

Salah satu yang menonjol adalah patah hati yang dialami para lelaki.

Seperti kita tahu, selama ini, gambaran yang dikemas oleh para sineas melalui sinetron, FTV, atau film cenderung patriarkis: seorang lelaki jadi rebutan beberapa perempuan. Perempuan seolah harus mati-matian mendapatkan cinta dari lelaki.

Itulah mengapa perkara madu-dimadu seakan menjadi hal yang lumrah sekali. Tak jarang, perempuan digambarkan sebagai sosok jahat yang sibuk berebut harta, tahta, dan pria.

Mbok ya, para penulis skenarionya kreatif sedikit. Dunia berubah, zaman bergerak. Kebahagiaan tak semata-mata cinta dari seorang lelaki. Banyak perempuan yang bisa membahagiakan dirinya sendiri. Yup, tanpa harus bersaing atau diadu-adu dengan sesama perempuan agar bisa dicintai oleh laki-laki.

Namun, di film Sobat Ambyar, kita bisa melihat sebaliknya. Lelaki justru remuk redam karena patah hati. Dominasi laki-laki yang kerap ditunjukkan sebagai playboy dan suka mempermainkan hati perempuan, justru dibuat jungkir balik di film ini.

Dan, tentu saja, lelaki boleh menangis saat patah hati.

Maskulinitas memang hanya setipis kulit. Budaya patriarki saja yang membuat lelaki sok kuat dalam menghadapi kesedihan. Masih percaya mitos yang katanya air mata diciptakan untuk perempuan, sedangkan lelaki diberkahi otot. Makanya, masih banyak lelaki yang ketakutan dibilang cengeng bin lembek kalau mewek.

Woiii…. memang buat apa Tuhan menciptakan lacrimal punctum yang ukurannya cuma 2 milimeter, kalau bukan untuk drainase air mata? Jangankan manusia, hewan juga punya lubang kecil di sudut kelopak mata tersebut. Jadi, kalau ada yang bilang air mata diciptakan hanya untuk perempuan, mungkin dia sering bolos pas pelajaran biologi.

Perkara tangis menangis ini, apalagi kalau ditinggal pas lagi sayang-sayangnya, adalah hak segala bangsa. Sebab memenuhi unsur kemanusiaan. Masih mau bilang “jangan nangis, kayak perempuan aja”? Lah, memang ada gitu laki-laki yang nangis, terus tiba-tiba berubah wujud jadi perempuan?

Film Sobat Ambyar mungkin bisa menjadi acuan buat orang-orang yang patah hati gara-gara putus dengan pasangan dan menikah dengan orang lain. Bahwa setiap orang berhak mengalami patah hati, sedih dan kecewa, sebab itu manusiawi. Setidaknya kita menjadi paham bahwa setiap manusia punya emosi, bukan kotak kosong tanpa isi.

Meski demikian, ada fase bahwa semua harus dilepaskan. Tidak terus-terusan ditangisi dan diratapi, apalagi menyalahkan diri sendiri. Toh, waktu tak akan berhenti demi memahami manusia yang sedang patah hati.

Betul, perlu banget belajar menerima kenyataan. The person who broke you, will ‘never’ be the one to fix you. Jangan terlalu berharap banget lah ya, saat mantan ngajak balikan dengan embel-embel bakal berubah. Apalagi, hanya berlandaskan kenangan yang uwu-uwu. Itu duluuu…

Pada akhirnya, yang bisa diandalkan untuk membantu kita keluar dari situasi patah hati, adalah orang-orang di sekitar kita yang selama ini membantu setulus hati. Mesti diakui, mereka lebih objektif dalam melihat situasi.

Plus, jangan lupa, sebelum mencintai orang lain, kita kudu bisa mencintai diri sendiri dulu. Self-acceptance penting bingit, cyynn.. Semacam kunci kebahagiaan. Kalau kamu sendiri belum bahagia, bagaimana mau membahagiakan aku? Uhukk..

Jadi, nggak ada istilahnya rela berkorban demi dia hingga mengabaikan diri sendiri. Itu sih bukan cinta, tapi kebodohan. Berani jatuh cinta, harus berani patah hati dong! Jangan maunya manis melulu, ntar diabetes.

Nah, kalau fase melepaskan sudah kelar, siap jatuh cinta lagi kan? Tenang, kalau patah hati lagi, ya tinggal dijogeti…