Suryo Agung, Gagal di Sepak Bola tapi Jadi Legenda Indonesia untuk Lari 100 Meter

·Bacaan 3 menit

Bola.com, Jakarta - Tidak selalu apa yang dicita-citakan dapat diraih dengan mulus. Terkadang apa yang ditakdirkan membawa kesuksesan lain. Seperti yang dialami oleh Suryo Agung Wibowo, eks sprinter dan menjadi legenda atletik Indonesia di nomor lari 100 meter putra.

Suryo Agung Wibowo dikenal sebagai manusia tercepat di Asia tenggara dengan dua kali memecahkan rekor lari 100 meter putra SEA Games Laos 2009 dengan catatan waktu 10,17 detik.

Di SEA Games 2009, Suryo Agung meraih tiga medali dua medali emas di nomor 100 meter dan 200 meter, ditambah medali perunggu di nomor 400 meter.

Pria asal Solo itu bercerita panjang lebar mengenai masa lalunya hingga bisa menjadi satu di antara seorang atlet terbaik di negeri ini. Cabang olahraga atletik sebenarnya tidak ada dalam benak maupun menjadi cita-citanya sejak kecil.

Akan tetapi justru sepak bola yang membawa Suryo Agung menekuni dunia olahraga. Keluarga khususnya pengaruh dari kakak pertamanya yang membuat Suryo Agung kepincut menjadi seorang pesepakbola.

"Dari kecil tidak ada cita-cita jadi pelari, tapi jadi pemain bola dari kakak pertama yang mengajak sering main tarkam. Saya lihat pemain pada dikasih amplop. Seringnya tarkam di Makamhaji Solo, enak juga nonton," ujar Suryo Agung Wibowo dalam kanal YouTube Akurasi TV, Minggu (5/9/2021).

"Lantas saya minta ke ibu untuk belikan sepatu bola di Pasar Legi, dan didaftarkan ke klub di Banyuanyar dekat rumah," kata pria 37 tahun tersebut.

Ditolak Persis Solo

Mantan sprinter andalan Indonesia, Suryo Agung Wibowo, sedang merintis sekolah lari yang diberi nama Suryo Agung Running School. (Bola.com/Yus Mei Sawitri)
Mantan sprinter andalan Indonesia, Suryo Agung Wibowo, sedang merintis sekolah lari yang diberi nama Suryo Agung Running School. (Bola.com/Yus Mei Sawitri)

Suryo Agung semakin mengasah bakatnya bermain bola dengan sering ikut tim tarkam atau pertandingan antar kampung. Masuk kelas tiga SMP, ia bahkan ikut tampil tarkam hingga ke Wonogiri dan Karanganyar.

Ia berposisi sebagai striker. Bakatnya dalam hal sprint mulai tampak dengan kadang-kadang terjebak dalam posisi offside di pertandingan. Ia pernah punya kejadian unik dan lucu saat ikut tarkam. Kakinya ditendangi oleh lawan yang berbadan besar dan melancarkan psywar.

Puncaknya adalah saat memasuki usia 17 tahun, Suryo Agung mencoba peruntungan dengan ikut seleksi di Persis Solo Junior untuk ajang Piala Soeratin. Sayangnya sepak bola bukan jalannya karena gagal masuk seleksi.

"Kelas 3 SMA saya nekat ikut seleksi umum Persis Solo Jr . Dari 100 orang masuk ke 60 orang, berlanjut lolos 40 besar, 30 besar, 24 besar. Nah seleksi untuk masuk ke 20 pemain, saya tidak lolos. Sempat ikut seleksi tim Jateng untuk Piala Mendagri juga tidak lolos," kenangnya.

Atletik Menjadi Takdir

Dua pelatih di Suryo Agung Running School, Suryo Agung Wibowo dan Lucky Afari. (Bola.com/Yus Mei Sawitri)
Dua pelatih di Suryo Agung Running School, Suryo Agung Wibowo dan Lucky Afari. (Bola.com/Yus Mei Sawitri)

Setelah peluang masuk di dunia lapangan hijau sulit terwujud, ia mulai tertarik di cabang olahraga atletik. Berawal dari mata pelajaran olahraga di sekolahnya, yang tidak sengaja ingin menjajal tantangan dari gurunya.

Materi pelajaran yang diberikan adalah lompat tinggi, gurunya menantang siswanya untuk siapa yang bisa memecahkan rekor lompatan setinggi 165cm bakal ditraktir sepuasnya di kantin sekolah. Rekor itu dipegang oleh salah satu siswa yang juga atlet taekwondo.

"Saya termotivasi, dan berhasil lompat di angka 170cm tanpa alas kaki. Benar saja saya ditraktir makan sepuasnya. Lalu saya dipanggil ke ruang guru untuk ikut lomba atletik di Stadion Manahan tahun 2000," tuturnya.

Bakat besarnya di atletik khususnya lari sprint terus menanjak, tidak hanya di lompat tinggi namun lari 100 meter, 200 meter, dan 400 meter putra. Suryo juga tampil di Popda dan Popnas hingga berhasil masuk ke PPLP atau dulu bernama Diklat Salatiga.

"Saya tetap di atletik ikut Popda dapat medali emas lompat tinggi, langsung dipanggil panitia untuk ikut lomba 100 meter lawan atlet-atlet dari Ragunan, dan finis nomor satu lagi," kata dia.

"Waktu Kejurnas di Jakarta saya kembali tertantang untuk bisa masuk ke PPLP dan tampil di Popnas, namun dengan syarat bisa melewati rekor waktu 11,20 detik. Saya bisa mencapai waktu 11,09 detik meski di posisi 5. Bangga dan senang karena bisa masuk PPLP," tegas Suryo Agung WibowO.

Sumber: Kanal YouTube Akurasi TV

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel