Susi & Kuat Maruf Kompak Tak Tahu Ada Pelecehan Pada Putri Candrawathi di Magelang

Merdeka.com - Merdeka.com - Asisten rumah tangga (ART) keluarga Ferdy Sambo, Susi, mengaku tidak mengetahui ada tindakan pelecehan seksual pada Putri Candrawathi yang dilakukan Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J.

Hal itu disampaikan Susi saat hadir sebagai saksi perkara pembunuhan berencana Brigadir J atas terdakwa Kuat Maruf dan Ricky Rizal alias Bripka RR.

"Untuk di Magelang sendiri, ada tidak tindakan pelecehan itu, terhadap ibu Putri Candrawathi? Kalau tidak ya tidak, kalau tidak tahu, ya tidak tahu," tanya jaksa penuntut umum (JPU) saat sidang di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Rabu (9/11) kemarin malam.

"Kalau saya, tidak tahu. Tidak tahu," jawab Susi.

"Berarti saudara tidak tahu apakah ada pelecehan atau tidak?" cecar jaksa.

"Tidak tahu," ucap Susi.

Sementara pada kesempatan usai sidang, penasihat hukum Kuat Ma'ruf, Irwan Irawan, mengaku kliennya juga tidak tahu mengenai peristiwa pelecehan seksual kepada istri Ferdy Sambo itu.

Menurutnya, Kuat yang merupakan sopir keluarga Ferdy Sambo, tidak pernah menerima fakta soal pelecehan seksual yang dialami Putri.

"Dia (Kuat) tidak tahu, dia hanya mendapatkan ibu (Putri Candrawathi) di depan kamar mandi, tergeletak dekat pakaian cuci," kata Irwan di PN Jaksel.

Sekadar informasi, dalam dakwaan disebut dugaan tindakan pelecehan seksual terjadi ketika Putri tergeletak saat berada di rumah Magelang, Jawa Tengah.

Di mana, Putri lemas dan peristiwa itu diklaim kubu Ferdy Sambo sebagai bagian rangkaian peristiwa pelecehan seksual. Sebagaimana apa yang sempat diadukan Putri kepada Ferdy Sambo.

"Setelah itu Ferdy Sambo yang sedang berada di Jakarta pada hari Jum'at dini hari tanggal 8 Juli 2022 menerima telepon dari Putri Candrawathi yang sedang berada di rumah Magelang sambil menangis berbicara dengan Ferdy Sambo bahwa Nofriansyah Yosua Hutabarat," seperti ditulis dalam dakwaan.

"Selaku Ajudan Ferdy Sambo yang ditugaskan untuk mengurus segala keperluan Putri Candrawathi telah masuk ke kamar pribadi Putri Candrawathi dan melakukan perbuatan kurang ajar terhadap Putri Candrawathi mendengar cerita tersebut, Ferdy Sambo menjadi marah kepada Nofriansyah Yosua Hutabarat," lanjutnya.

Dakwaan Pembunuhan Berencana

Dalam perkara ini Jaksa Penuntut Umum (JPU) telah mendakwa total lima tersangka yakni, Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, Richard Eliezer alias Bharada E, Ricky Rizal alias Bripka RR, dan Kuat Maruf.

Mereka didakwa turut secara bersama-sama terlibat dengan perkara pembunuhan berencana bersama-sama untuk merencanakan penembakan pada 8 Juli 2022 di rumah dinas Komplek Polri Duren Tiga No. 46, Jakarta Selatan.

"Mereka yang melakukan, yang menyuruh melakukan, dan turut serta melakukan perbuatan, dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain," ujar jaksa saat dalam surat dakwaan.

Atas perbuatannya, kelima terdakwa didakwa sebagaimana terancam Pasal 340 subsider Pasal 338 KUHP juncto Pasal 55 KUHP yang menjerat dengan hukuman maksimal mencapai hukuman mati.

Sedangkan hanya terdakwa Ferdy Sambo yang turut didakwa secara kumulatif atas perkara dugaan obstruction of justice (OOJ) untuk menghilangkan jejak pembunuhan berencana.

Atas hal tersebut, mereka didakwa melanggar Pasal 49 juncto Pasal 33 dan/atau Pasal 48 ayat (1) juncto Pasal 32 ayat (1) UU ITE Nomor 19 Tahun 2016 dan/atau Pasal 221 ayat (1) ke 2 dan 233 KUHP juncto Pasal 55 KUHP dan/atau Pasal 56 KUHP.

"Timbul niat untuk menutupi fakta kejadian sebenarnya dan berupaya untuk mengaburkan tindak pidana yang telah terjadi," sebut Jaksa. [lia]