Sutjiati Curhat Karir Hampir Habis di RI, DPR: Atlet Bagus Investasi Negara

·Bacaan 2 menit

Merdeka.com - Merdeka.com - Wakil Ketua Komisi X DPR RI Dede Yusuf menyoroti kurangnya perhatian pemerintah dalam pembinaan terhadap atlet nasional. Hal ini berkaca dari contoh kasus yang dialami atlet Sutjiati Narendra. Atlet senam ritmik ini mengaku terhambat karirnya setelah memutuskan menjadi atlet di Indonesia.

Dede mengatakan, pemerintah memang baru memberikan perhatian kepada para atlet jika bisa berprestasi saja.

"Kalau soal perhatian saya setuju, pemerintah masih kurang soal pembinaan. Lebih kepada hadiah jika berprestasi," ujarnya kepada wartawan, dikutip Kamis (21/4).

Seharusnya, pemerintah memberikan dukungan karena untuk melahirkan atlet berprestasi butuh dukungan. Misalnya pemerintah bisa memberikan beasiswa kepada atlet berprestasi yang mau memperkuat tim nasional.

"Sehingga orangtua sudah paham bahwa soal pendidikan anaknya akan terjamin. Sehingga bisa fokus mengejar prestasi olahraganya," ujar Dede.

Pemerintah juga dinilai masih kurang melakukan koordinasi dengan cabang olahraga (cabor). Pemerintah seharusnya bisa memperhitungkan bersama cabor atlet mana yang harus direkrut. Sebab atlet yang bagus merupakan investasi negara.

"Mana atlet yang memang musti direkrut dan didorong menjadi aset negara. Itu yang dijadikan target utama. Karena atlet yang bagus itu adalah investasi negara," ujar Dede.

Curhatan Sutjiati

Sebelumnya, atlet senam ritmik asal Indonesia, Sutjiati Narendra terancam pupus mengikuti Sea Games 2021 di Vietnam. Padahal, ia mengaku sudah berlatih enam hari seminggu.

Bak petir di siang bolong, dua bulan sebelum kejuaraan Sutjiati dikabarkan tidak jadi berangkat. Kecewa kini dirasakan, perempuan yang sudah aktif berlatih senam selama 8 tahun itu. Padahal, dia dan pelatihnya siap merogoh kocek sendiri untuk mengharumkan nama Indonesia.

"Dua bulan sebelum kejuaraan ini, saya diberitahu bahwa saya tidak diberangkatkan, meskipun saya dan pelatih saya siap untuk membayar dari kantong kami sendiri," kata Sutjiati Narendra dalam surat terbuka. Dia telah mengizinkan merdeka.com untuk mengutipnya, Rabu (20/4).

Kekecewaan Sutjiati kepada pemerintah bukan kali pertama. Perempuan 18 tahun yang mempunyai darah Amerika - Indonesia dari orang tuanya juga sempat terpilih jadi pasukan elite senam ritmik di Amerika.

Tetapi pada 2018, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta untuk anak muda yang memiliki kewarganegaraan ganda di luar negeri untuk pulang dan membangun Indonesia.

Titah dari Jokowi dilaksanakan. Sutjiati balik ke kampung halaman ayahnya di Lampung. Harapannya bisa membangun Indonesia lewat jalur olahraga. Tapi sayang, justru dipersulit.

"Di Negara Indonesia tercinta ini, kita para atlet tidak memiliki kesempatan cukup bersaing di kancah internasional dan kemudian tertahan untuk dikirim ke luar negeri karena dikatakan kita belum cukup berprestasi," tulis Sutjiati. [lia]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel