Suzuki Butuh Lebih dari Satu Orang untuk Gantikan Brivio

Sebastian Fränzschky
·Bacaan 2 menit

Salah satu bos tim MotoGP, Francesco Guidotti, menyebutkan tidak akan mudah bagi Suzuki untuk segera mencari pengganti Davide Brivio. Pria Italia yang bergabung dengan Suzuki menjelang MotoGP 2015 itu adalah sosok di balik kehebatan Suzuki musim lalu.

Di bawah tangan dinginnya, Suzuki mampu merebut gelar juara dunia pembalap kelas utama untuk kali pertama dalam 20 tahun lewat performa impresif Joan Mir. Brivio juga menjadi aktor utama di balik kebijakan Suzuki yang berani merekrut pembalap muda.

Kini, pabrikan asal Hamamatsu, Jepang, tersebut harus rela melepas Brivio ke Tim Alpine (Renault) untuk Kejuaraan Dunia Formula 1 2021 nanti. Hingga kini, kendati sejumlah ama top bermunculan, belum jelas siapa yang akan menggantikan Brivio di Suzuki.

Menurut Manajer Tim Prama Racing, Francesco Guidotti, seorang manajer baru belum bakal cukup untuk melanjutkan tugas-tugas dan program yang sudah disusun Brivio untuk Suzuki di MotoGP.

“Pengganti Brivio nanti haruslah orang yang siap memberikan segalanya yang terbaik dan paling tidak mampu mendekati torehannya. Namun, mungkin Suzuki akan butuh lebih dari satu orang untuk menggantikan peran Brivio,” tutur Guidotti.

Sejumlah nama manajer top memang langsung muncul begitu Davide Brivio menyatakan bakal meninggalkan Suzuki beberapa hari lalu. Nama pertama yang paling santer adalah Livio Suppo.

Pria asal Italia ini sukses menangani dua tim pabrikan besar di MotoGP, Ducati dan Repsol Honda. Suppo pula yang mendatangkan Casey Stoner dari Ducati ke Repsol Honda dan menjadikannya juara dunia pada 2011.

Baca Juga:

Suzuki Terkejut Ditinggalkan Davide Brivio Suzuki Konfirmasi Kepergian Davide Brivio Davide Brivio Dikabarkan Pindah ke Alpine F1

Suppo juga menjadi Manajer Tim Repsol Honda saat Marc Marquez baru bergabung dan langsung menjadi juara dunia.

Selain Suppo, sederet nama lain seperti Davide Tardozzi, Manuel Cazeaux, hingga Pablo Nieto juga bermunculan. Tardozzi sepertinya hampir mustahil karena sudah diikat Ducati sampai 2022.

Manuel Cazeaux memiliki nilai lebih karena ia kepala kru Alex Rins. Praktis, ia sudah mengetahui seluk beluk tim Suzuki dan paham apa yang selama ini dilakukan oleh Brivio.

Pablo Nieto menangani tim VR46 milik Valentino Rossi di Moto2 dan Moto3 sejak 2015. Nieto dinilai pantas dipilih Suzuki karena ia salah satu sosok di balik sukses Franco Morbidelli dan Francesco Bagnaia.

Yang pasti, bukan tugas mudah bagi Suzuki untuk mencari pengganti Davide Brivio yang selama ini dikenal piawai membangun tim. Kehebatan Yamaha bersama Valentino Rossi menaklukkan Honda pada era awal 2000-an juga berat tangan dingin Brivio.

Francesco Guidotti menyebut, tawaran Alpine untuk Brivio memang sangat tiba-tiba. Sekitar 10-15 hari sebelum pria Italia itu memutuskan pergi. Guidotti pun yakin tawaran Alpine kepada Brivio pasti sangat menarik sehingga ia berani meninggalkan Suzuki.

“Saya ikut senang Davide Brivio bisa pindah ke F1. Ia sangat layak mendapatkan kesempatan itu,” ucap Guidotti.

“Bisa dibayangkan seperti apa Brivio menyiapkan adrenalinnya untuk ini. Menurut saya, Fernando Alonso bisa membantunya. Pembalap sekaliber dirinya (juara dunia F1 2005 dan 2006) tahu apa yang ia inginkan dari sosok seperti Brivio.”