Swafoto Pertama di Dunia Sesaat Sebelum Jatuhnya Kekaisaran Rusia

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta - Swafoto kerap menjadi salah satu cara mengekspresikan diri seseorang. Belakangan swafoto banyak dijadikan bahan untuk eksis di media sosial.

Namun, siapa sangka, swafoto diperkirakan sudah pernah dilakukan sejak zaman sebelum era teknologi. Seperti yang dilakukan Grand Duchess Anastasia Nikolaevna, putri keempat Tsar Nicholas II yang merupakan penguasa terakhir Kekaisaran Rusia.

"Aku mengambil foto ini sendiri, menghadap ke cermin. Sangat sulit karena tanganku bergetar," kata dia, seperti Liputan6.com kutip dari Daily Mail, Selasa (29/6/2021).

Anastasia diduga mengambil foto dirinya sendiri pada tahun 1913, lima tahun sebelum kematiannya yang tragis. Anastasia mengambil foto dirinya menggunakan Kodak Brownie yang dirilis pada tahun 1990.

Di depan sebuah cermin, Anastasia mengabadikan citra dirinya yang kala itu berusia 13 tahun. Ia terlihat menatap dirinya dengan rasa ingin tahu.

Bisa jadi, Anastasia merupakan remaja pertama yang punya swafoto, dengan susah payah menstabilkan kamera itu di atas sebuah kursi. Sambil mengatur fokus melalui jendela bidik di bagian atas kotak.

Foto tersebut kemudian dikirim kepada seorang teman Anastasia pada tahun 1914. Berdasarkan situs Alexander Palace Time Machine, Anastasia menulis dan mengirim foto tersebut pada tanggal 28 Oktober 1914.

Namun, kejadian nahas menimpa dirinya, Anastasia tewas saat keluarganya dibantai oleh anggota Cheka, polisi rahasia Bolshevik pada 17 Juli 1918. Dia adalah adik dari Grand Duchess Olga, Grand Duchess Tatiana, dan Grand Duchess Maria. Sekaligus kakak dari Alexei Nikolaevich, Tsarevich atau pangeran Rusia.

Pada 6 Februari 1928, seorang perempuan yang mengaku sebagai Anastasia Tschaikovsky mengklaim sebagai putri bungsu sang Tsar dan menggelar konferensi pers di New York.

Di depan wartawan, perempuan tersebut mengaku berada di AS untuk memperbaiki rahangnya yang konon patah oleh tentara Bolshevik saat lari dari lokasi eksekusi di Ekaterinburg, Rusia.

Ia disambut hangat oleh Gleb Botkin, putra dokter keluarga Kekaisaran Romanov yang dieksekusi pada 1918. Botkin memanggil Anastasia Tschaikovsky sebagai 'Yang Mulia' dan mengklaim bahwa perempuan itu adalah Grand Duchess Anastasia teman mainnya saat kecil.

Kejatuhan Kekaisaran Rusia

Raja terakhir Rusia, Tsar Nicholas II dieksekusi pada 17 Juli 1918. Konon, salah satu putrinya, Anastasia berhasil lolos.
Raja terakhir Rusia, Tsar Nicholas II dieksekusi pada 17 Juli 1918. Konon, salah satu putrinya, Anastasia berhasil lolos.

Antara tahun 1918-1928, sudah lebih dari setengah lusin perempuan muncul, mengklaim berhak atas harta peninggalan Dinasti Romanov di sejumlah Bank Eropa.

Beberapa wartawan Amerika skeptis terhadap klaim Anastasia Tschaikovsky. Grand Duke of Hesse, paman Anastasia, menyewa detektif swasta untuk mengungkap identitas asli Anastasia Tschaikovsky. Hasilnya, dia sejatinya adalah Franziska Schanzkowska, pekerja pabrik keturunan Polandia - Jerman dari Pomerania yang menghilang pada 1920. Schanzkowska memiliki sejarah ketidakstabilan mental dan terluka dalam ledakan pabrik tahun 1916.

Temuan ini diterbitkan di surat kabar Jerman tetapi tidak terbukti secara definitif. Namun, uji DNA yang dilakukan terakhir mengonfirmasi bahwa ia tak punya kaitan darah dengan Romanov.

Anastasia menjadi subjek legenda yang tak terhitung jumlahnya selama hampir 100 tahun. Banyak orang mengaku sebagai dirinya, dibumbui film-film Hollywood yang mengisahkan dugaan ia berhasil melarikan diri dari pembantaian.

Dugaan tersebut dipicu fakta bahwa lokasi ia dimakamkan tidak diketahui pasti. Anastasia menjadi bagian dari salah satu misteri besar abad ke-20. Diawali kejatuhan Kekaisaran Rusia. Pada 1917, kaum revolusioner memaksa Tsar Nicholas II mundur, lalu memenjarakannya beserta keluarga di Istana Czarskoye Selo dan lalu dibawa ke Ekaterinburg di Pegunungan Ural.

Perang sipil pun pecah, khawatir pasukan anti-Bolshevik menyelamatkan keluarga sang kaisar, otoritas setempat menjatuhkan hukuman mati. Seperti Liputan6.com kutip dari History.com, sesaat setelah tengah malam, 17 Juli 1918, kaisar dan keluarganya beserta dokter keluarganya Botkin dipaksa berpakaian lengkap.

Mereka disuruh berbaris, dan difoto di ruang bawah tanah. Alasannya, untuk memadamkan rumor bahwa mereka telah melarikan diri. Tiba-tiba, hampir selusin orang bersenjata menyerbu masuk ke ruangan dan memberondong keluarga kekaisaran.

Asap mengepul dari senapan. Mereka yang masih bernafas ketika asap menghilang, ditikam sampai mati. Para algojo kemudian membawa jasad-jasad itu ke sebuah tambang, sekitar 14 kilometer dari Ekaterinburg, membakar mereka dalam api unggun berbahan bakar bensin.

Tulang-belulang disiram cairan asam agar hancur. Apa yang kemudian tersisa dilemparkan ke dalam lubang tambang, yang ditutupi dengan kotoran.

Jasad keluarga Romanova diekskavasi pada 1991, diidentifikasi secara formal dengan sampel DNA, dan dimakamkan kembali di Katedral St Petersburg pada 1998.

Namun, antropolog saat itu ragu soal tubuh Anastasia sisi kiri wajahnya rusak menjadi potongan-potongan kecil. Kemudian, pada 2007, jasad gadis kecil dan seorang anak ditemukan di Porosenkovsy Meadow dan diidentifikasi sebagai Grand Duchess Maria dan Aleksey.

Akhirnya jenazah Tsar terakhir, istri, dan 5 anaknya lengkap. Namun, benarkah misteri berakhir?

Saksikan video pilihan berikut ini

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel