Swiss Cheese, Pedoman Mudah Warga Atasi COVID-19 Mulai dari Rumah

·Bacaan 3 menit

VIVA – Penanganan pandemi COVID-19 di Indonesia masih berjibaku dengan angka kasus positif yang terus naik yang mengharuskan pemerintah menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat dari 3 Juli hingga 20 Juli 2021.

Penerapan protokol kesehatan terutama penggunaan masker dan diam di rumah terus menjadi sorotan dan digalakan, namun kenaikan kasus positif masih terjadi. Lantas, apa yang perlu dipahami masyarakat agar mudah melaksanakan kepatuhan protokol kesehatan.

Pada materi pembekalan Peran Jurnalis dalam Komunikasi Risiko dalam Masa PPKM Darurat oleh Satgas Nasional COVID-19, Swiss Cheese Model dinilai mampu jadi pedoman singkat dan mudah untuk masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan COVID-19 sehari-hari.

Swiss Cheese Model menekankan pada vaksin dan protokol kesehatan saling melengkapi yang terbagi pada dua dimensi, yaitu kewajiban pribadi dan kewajiban bersama.

Pada Kewajiban pribadi di antaranya meliputi menjaga jarak, menggunakan masker, mencuci tangan, menerapkan etika bersin dan batuk, menjauhi memegang wajah dengan tangan langsung dan menjauhi kerumunan.

Sedangkan pada kewajiban bersama, antara lain tanggap melakukan testing, tracing, menjamin sirkulasi udara yang baik, mendapatkan informasi dan dukungan pembiayaan kesehatan, karantina dan isolasi, vaksin.

Dua hal itu dinilai mudah dipahami masyarakat untuk membedakan mana yang menjadi tanggung jawab pribadi dan tanggung jawab bersama petugas maupun lembaga lainnya agar upaya memutus mata rantai penularan COVID-19 segera tuntas.

DI RUMAH SAJA

Pemerintah Kota Bandung terus berupaya menambah tempat tidur di rumah sakit rujukan COVID-19. Pemkot Bandung juga mendorong konversi tempat pidur perawatan non-COVID-19 menjadi perawatan COVID-19.

Wakil Wali Kota Bandung Yana Mulyana mengakui, peningkatan kasus COVID-19 di kota itu masih sangat tinggi. Biasanya penambahan kasus di Kota Bandung tidak lebih dari 100 orang per hari. Namun pada 7 Juli menyentuh angka 450 per hari. "BOR (Bed Occupancy Rate) juga di atas 90 persen. Itu menunjukkan Rumah Sakit sangat penuh," ujar Yana, Jumat, 9 Juli 2021.

Menurutnya, pada akhir Mei ada 1.400 tempat tidur di 29 rumah sakit rujukan COVID-19. Saat ini sudah ditambah menjadi 2.266 tempat tidur. Namun masih tetap penuh oleh penderita. "Kota Bandung terus berupaya mendorong rumah sakit rujukan mengonversi tempat tidur perawatan non-COVID-19 menjadi perawatan COVID-19," katanya.

"Sudah cukup banyak Rumah Sakit yang mengonversi sampai di atas 60 persen, seperti RS Edelweiss memyentuh angka 73 persen tempat tidurnya dipergunakan untuk pelayanan COVID-19. Di sana BOR-nya sudah di angka 103 persen," katanya.

Menurut Yana, hal itu menunjukkan penyebaran COVID-19 terus meningkat. Bahkan yang meninggal bisa sampai 50 orang per hari. Sejak 24 Juni, kata Yana, berkisar 46-50 orang yang meninggal per hari. Padahal sebelumnya tidak lebih dari 10 orang. "Tempat tidur sekarang sudah 2.266 itu penuh terus, jadi kejar-kejaran," katanya.

Yana menekankan warga untuk mengurangi mobilitas saat pelaksanaan PPKM Darurat, sehingga dengan inkubasi 14 hari dari 3 Juli sampai 20 Juli 2021, virus COVID-19 dapat mati. Menurutnya, kunci utama menghentikan COVID-19 ialah transmisi. Jika virus itu masih terdapat di tubuh namun mobilitasnya tinggi, maka akan terus menularkan ke orang lain.

"Tapi kalau sekarang kitanya diam, virus corona kan benda mati tapi dia bisa hidup di media seperti selaput lendir mata, hidung, mulut, kita yang jadi media transmisi perpindahan penyebarannya, manusia. Kalau dia kering ke tanah, mati virusnya. Jadi kalau inkubasinya 14 Hari tidak ada orang yang ditempel oleh virus harusnya pandemi cepat selesai," katanya.

#ingatpesanibu
#satgascovid19
#pakaimasker
#cucitanganpakaisabun
#jagajarak

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel