Syamsul Maarif, dulu penjual rokok sekarang wakil direktur

MERDEKA.COM. "Hidup bagaikan roda yang berputar." Kalimat itu sepertinya cocok diungkapkan untuk Syamsul Maarif. Pria kelahiran Lamongan, Jawa Timur, 50 tahun silam ini kini hidup dalam kesuksesan sebagai seorang wakil direktur utama PT Gama Group.

Padahal dulunya, Syamsul hidup pas-pasan sebagai penjual rokok. Menurut beberapa warga dan pekerja pelabuhan di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Syamsul dulunya merupakan pedagang rokok di Jalan Arjuno, Surabaya.

Namun, gigih berusaha dan sabar dalam menjalani hidup membawanya menjadi salah satu orang penting di perusahaan yang terletak di Jalan HM Nasir (dulu Jalan Tanjung Priok) 12, Tanjung Perak, Surabaya.

Dulu, Syamsul merupakan orang yang mudah ditemui. Tapi kini, dia menjadi orang sibuk yang sulit untuk ditemui.

"Waduh, bapak lagi ke luar kota. Sejak kemarin beliau berada di perusahaannya yang lain di Pasuruan," kata salah satu karyawan PT Gama Group saat ditemui merdeka.com di kantornya, Sabtu (11/5).

Diakui beberapa karyawan PT Gama Group, meski baru berdiri pada tahun 2005, perusahaan yang bergerak di bidang pelayaran transportasi dan logistik tersebut memiliki beberapa anak cabang perusahaan yang tersebar di beberapa kota, seperti Semarang, Makassar, Banjarmasin, dan Jakarta. Sedangkan beberapa anak perusahaan di antaranya, PT Gama Intisamudera, PT Kuda Inti Samudera, PT Gama Mitra Perkasa, PT Gama Mitra Utama, PT Gama Jaya Reksa, dan CV. Tirta Inti Persada.

Meski telah menjadi bos, Syamsul tak lantas menjadi elitis. Hal ini dibuktikannya dengan sikap turun langsung ke bawah. Syamsul rutin melihat dan memantau langsung perusahaan-perusahaan yang dipimpinnya.

"Bapak sedang tidak di tempat. Mungkin hari Senin baru pulang ke Surabaya," kata staf PT Gama Group, Linda.

Menjadi sukses tak lantas membuat Syamsul menjadi sombong dan tak mau bergaul dengan kelas menengah ke bawah. Syamsul kerap tiba-tiba muncul untuk nongkrong bersama para kuli pelabuhan di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.

"Kadang dia muncul ikut ngopi bareng sama kuli-kuli di sini (warung kopi di kompleks pelabuhan). Kalau orang yang tidak mengenal Pak Syamsul, ya nggak tahu kalau dia itu bos di salah satu perusahaan besar di pelabuhan, wong dia selalu mengenakan pakaian mbladus (pakaian ala kuli)," kata Budi, salah satu pekerja pelabuhan.

"Padahal dulu Pak Syamsul itu pedagang rokok di Jalan Arjuno," kata dia.

Menurut Budi, sebelum sukses, Syamsul hidup pas-pasan di desanya, yaitu Desa Konang, Glagah, Lamongan. Syamsul lantas bertekad mengubah nasib dengan merantau ke Surabaya. Dia kemudian sekolah di SMA Mujahidin Surabaya, dan membiayai sekolahnya dengan berjualan roti dan minuman. Dia juga pernah menemani saudaranya berjualan buku.

Syamsul tamat SMA pada 1983 dan diterima di Universitas Airlangga. Selama kuliah, Syamsul berdagang rokok. Untuk mengirit biaya hidup, Syamsul tinggal di lapak rokok miliknya dan harus terbiasa dengan bau tak sedap dari got yang berada di bawah lapaknya.

Saat bulan puasa, Syamsul ikut mengantre buka puasa bersama agar mendapatkan nasi bungkus gratis di Masjid Al-Falah, Jalan Darmo. Lulus kuliah, Syamsul bekerja di perusahaan.

Namun dia kerap berpindah-pindah dari perusahaan yang satu ke perusahaan yang lain, mulai dari perusahaan asuransi hingga jasa transportasi dan logistik. Setelah memiliki cukup modal, dia dan beberapa temannya lantas mendirikan PT Gama Group yang sekarang dipimpinya dengan kepemilikan saham 30 persen.

Awalnya, perusahaan miliknya itu hanya melayani freight forwading (ekspedisi pengangkutan barang), kemudian merambah beberapa jasa, seperti bongkar muat kapal, jasa pengadaan barang alat berat dan perawatannya (maintenance) serta pengoperasiaannya.

Sekarang, perusahaan ini memiliki lebih dari 800 karyawan dan menjalin mitra kerja dengan beberapa instansi seperti PLN, PT Pelabuhan Indonesia dua, tiga, dan empat, PT Semen Gresik, PT PAL dan lainnya.

Kerja keras dan sabar menjadi kunci sukses Syamsul. Namun, setelah sukses dia juga selalu ingat dari mana dirinya berasal. Hal itu yang membuatnya selalu bersikap apa adanya, tidak sombong dan mengingat orang bawah.

Sumber: Merdeka.com
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.