Syarikat Islam minta umat jaga nilai-nilai persatuan dalam bernegara

Syarikat Islam Indonesia meminta umat Islam untuk selalu menjaga nilai-nilai persatuan dan kesatuan guna menciptakan kondisi sosial dan politik yang stabil di Indonesia.

Presiden Lajnah Tanfidziyah (LT) Syarikat Islam Indonesia Muflich Chalif Ibrahim mengatakan umat Islam harus lebih dulu menjadi faktor pemersatu dan perekat, karena bila umat Islam kuat dan solid bisa memudahkan mempersatukan seluruh masyarakat sebangsa dan setanah air.

"Saya yakin selama Syarikat Islam Indonesia masih ada di bumi Nusantara ini, selama itu pula Indonesia akan tetap jaya dan lestari berkesinambungan," ujarnya dalam Kongres Nasional ke-39 Syarikat Islam Indonesia yang digelar di Asrama Haji, Jakarta Timur, Jumat.

Baca juga: Syarikat Islam dorong masyarakat wujudkan 2022 menjadi tahun toleransi

Muflich menuturkan dengan tauhid yang bersih, persatuan mudah untuk dilakukan dalam berbagai situasi. Tauhid juga dapat membentengi diri umat dari berbagai aksi yang tidak baik, seperti korupsi, penimbunan barang kebutuhan pokok, penyalahgunaan anggaran, penyelewengan jabatan.

Menurutnya, sebersih-bersihnya tauhid tidak akan membuat umat menghalalkan berbagai cara untuk mencapai apa yang dicita-citakan.

Selain berbicara tentang persatuan dan tauhid, Muflich juga menyampaikan tentang ilmu yang tinggi tidak akan membuat umat mudah untuk ditipu daya dan tidak akan mudah dipecah belah maupun diadu domba.

"Dengan ilmu kita diajarkan untuk jujur, dengan ilmu kita tidak akan menyebarkan berita-berita bohong dan hoaks, tidak akan melakukan dugaan-dugaan," ujarnya.

Baca juga: Syarikat Islam ajak muliakan anak yatim saat COVID-19

Baca juga: Syarikat Islam komitmen berjuang untuk perbaiki ekonomi umat

Syarikat Islam Indonesia merupakan organisasi massa tertua yang berdiri sejak era kolonialisme yang didirikan oleh Samanhudi pada 16 Oktober 1905. Nama pertama organisasi ini adalah Sarekat Dagang Islam (SDA) yang didirikan sebagai wadah perkumpulan dan pergerakan bagi para pedagang Muslim pribumi guna menandingi monopoli pedagang Tionghoa kala itu.

Syarikat Islam Indonesia sempat menjadi partai politik, namun sejak 2003 organisasi ini menjadi organisasi masyarakat dan bertahan hingga sekarang.