Syekh Ali Jaber dan Kenangannya Tentang Lombok

Dedy Priatmojo, Satria Zulfikar (Mataram)
·Bacaan 2 menit

VIVA – Kabar duka mendalam datang dari ulama tersohor Syeikh Ali Jaber. Ulama kelahiran Madinah itu wafat pada Kamis, 14 Januari 2021.

Kabar duka tersebut disampaikan Ketua Yayasan Syekh Ali Jaber, Habib Abdurrahman Al-Habsyi.

"Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, telah wafat Syekh Ali Jaber, saya sedang menuju RS Yarsi Jakarta Pusat," katanya.

Sebelumnya, Syekh Ali Jaber sempat dirawat karena terinfeksi COVID-19. Setelah beberapa hari menjalani perawatan dan dinyatakan sembuh, bahkan telah negatif dari COVID-19, Syekh Ali Jaber berpulang ke rahmatullah.

Ulama kharismatik kelahiran Madinah yang telah lama tinggal di Lombok ini sempat berkata jika meninggal nanti ingin dimakamkan di Lombok. Menurutnya, Lombok sudah seperti tanah kelahirannya. Istrinya juga berasal dari Lombok.

"Ya Allah, walaupun saya memilih memohon meninggal di Madinah. Kalau saya ditetapkan meninggal di Indonesia, mohon saya mau dimakamkan di Lombok," kata Syekh Ali Jaber dalam ceramahnya yang diunggah di YouTube.

Syekh Ali Jaber dan Lombok

Syekh Ali Jaber begitu dekat dengan Lombok. Bahkan saat berkunjung ke Lombok semasa Kapolda NTB dipimpin Irjen Pol Umar Septono, Syekh Ali Jaber menyebut Lombok sebagai tempat asalnya.

Karena Lombok menjadi tempat pertama kali Syekh Ali Jaber memulai dakwahnya di Indonesia. Dari Lombok ia menjadi ulama tersohor hingga saat ini.

Syekh Ali Jaber awalnya mengenal Lombok saat menikah dengan Umi Nadia, warga Lombok yang tinggal di Madinah. Ia dikaruniai seorang anak bernama Fahad Ali Jaber.

Selama berada di Lombok, ia menjadi imam besar sekaligus khotib di Masjid Agung Al-Muttaqin. Ia kemudian menjadi guru Tahfiz di Islamic Center di Mataram.

Selepas berdakwah di Lombok, ia kemudian mengunjungi Jakarta. Ia menjadi imam Salat Magrib di masjid Sunda Kelapa.

Saat melantunkan ayat suci Alquran, orang mendengar suaranya cukup merdu. Hal itu membuat pengurus masjid kemudian memintanya menjadi imam salat tarawih karena saat itu mendekati bulan Ramadan. Ia kemudian mengambil amanah tersebut.

Dari sana karir berdakwahnya mulai dikenal masyarakat Ibu Kota. Pada tahun 2012 ia resmi mendapatkan kewarganegaraan Indonesia yang langsung dianugerahkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kala itu. Karir dakwahnya pun terus memuncak.