Sylviana Murni: Satpol PP Tak Perlu Kekerasan

TEMPO.CO, Jakarta - Meski hanya ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas Kepala Satuan Polisi Pamong Praja DKI Jakarta, Sylviana Murni, tidak ingin main-main dalam menjalankan amanah.

"Harus serius juga. Nanti malam saya mau bertemu Satpol PP. Saya kenalan juga akan memberi arahan," kata Sylviana di Balai Kota Jakarta, Jumat 22 Februari 2013. Hari ini Sylviana ditunjuk Gubernur DKI Joko Widodo sebagai Pelaksana Tugas Kepala Satpop PP menggantikan pejabat sebelumnya, Effendi Anas. Pergantian ini bagian dari mutasi sejumlah pejabat yang dilakukan Jokowi.

Program Satpol PP yang akan dijalankannya sebagian akan meneruskan apa yang dilakukan pemimpin sebelumnya, Effendi Anas. Namun dia juga ingin menambahkan pendekatan-pendekatan baru. "Pendekatan ini mengedepankan dialog persuasif, tidak menggunakan kekerasan," ujarnya.

Menurut Sylviana, dalam menegakkan peraturan daerah tidak harus menggunakan cara kekerasan. Contohnya kepada pedagang kaki lima. Pengalamannya sebagai Wali Kota Jakarta Pusat pada 2008 lalu memberikannya gambaran cara seharusnya menegakkan peraturan daerah. Ketika itu, dia berdialog dengan pedagang buku di Kwitang yang sering menggunakan bahu jalan untuk berjualan. 

"Kami ajak dialog. Akhirnya mereka mau pindah ke lantai 4 Pasar Senen dan Thamrin City," kata Sylviana. Jika dialog hingga 2- 3 kali tidak menemukan hasil, kata dia, terpaksa harus menggunakan cara represif.

Mengenai penggunaan benda tajam ataupun alat keras yang digunakan Satpol PP, Sylviana menegaskan Satpol PP Jakarta tidak pernah menggunakan itu. "Itu tergantung manusianya. Mau dijadikan apa alat itu, teman atau tidak."

Dia tidak berkeberatan dengan berkurangnya personil Satpol PP karena membantu lembaga lain. "Karena saya menganggap itu bagian dari kerja sama. Kami membantu Dinas Perhubungan dan PD Pasar Jaya. Jadi saya nggak merasa kehilangan," ujarnya.

Dalam menjalankan pekerjaannya, Sylviana selalu berpegang pada filosofinya, yakni "work smart with heart." Sylviana, 55 tahun, pernah terpilih sebagai None Jakarte 1981. Dia memulai karirnya sebagai staf Penatar BP-7 DKI 1985-1987 sampai kemudian menjadi Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (DKCS) DKI 2001-2004, Kepala Dinas Pendidikan Dasar DKI 2004-2008, da Walikota Jakarta Pusat pada 2008. Dia pernah menjadi anggota DPRD DKI 1997-1999, wakil dari Golongan Karya. Kini dia menjabat sebagai Asisten Pemerintahan DKI. 

SUTJI DECILYA

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.