T20: Green Pharmacy untuk arsitektur kesehatan global

Lead Chair Think 20 (T20) Prof Bambang Brodjonegoro mengemukakan Green Pharmacy atau Fitofarmaka memiliki potensi yang menjanjikan dalam upaya memperkuat arsitektur kesehatan global menghadapi pandemi di masa depan.

"Presidensi G20 mengusung tema Recover Together, Recover Stronger. Untuk berkomitmen dalam sektor kesehatan, diperlukannya kolaborasi dan sumber daya untuk membangun ketahanan kesehatan global," kata Bambang Brodjonegoro saat menyampaikan pemaparan dalam agenda T20 Indonesia Summit yang diikuti dari YouTube T20 Indonesia di Jakarta, Selasa.

Bambang mengatakan Indonesia memiliki potensi untuk mengembangkan Green Pharmacy untuk menjaga kualitas, khasiat, dan obat-obatan yang ramah lingkungan, sehingga dapat menciptakan akses bagi penanggulangan bahan kimia yang ada di seluruh dunia.

Dalam Presidensi G20, kata Bambang, Indonesia harus menjadi panutan dalam pengembangan fitofarmaka sebagai gerakan Green Pharmacy.

"Ini merupakan masa depan yang menjanjikan bagi kemandirian serta ketahanan kesehatan bagi negara-negara yang memiliki kapabilitas produksi produk kesehatan yang terbatas dan angka impor yang tinggi," ujarnya.

Baca juga: T20 Indonesia desak pimpinan G20 pulihkan ekonomi secara inklusif

Mantan Menteri Riset dan Teknologi Indonesia/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Indonesia itu mengatakan impor bahan baku obat dapat menyebabkan guncangan keuangan negara saat terjadinya keadaan darurat seperti pandemi COVID-19.

"Hal ini telah menyadarkan pemerintahan dunia mengenai masalah pasokan obat berbahan kimia, sehingga Green Pharmacy dapat masuk dan membantu menyelesaikan permasalahan dunia saat pandemi COVID-19 melanda," katanya.

Pada acara yang sama, Director of Research & Business Development Dexa Group Dr. Raymond Tjandrawinata mengatakan Green Pharmacy berasal dari bumi. Tidak hanya meningkatkan kesehatan dan gaya hidup masyarakat, tetapi juga meningkatkan keramahan lingkungan.

"Misalnya, mengurangi emisi NO dan meningkatkan bahan organik, menyesuaikan pH tanah, dan meningkatkan retensi air. Ketika mengembangkan apotek, perlu memastikan produk kimia diturunkan dengan lebih banyak Green Pharmacy," ujarnya.

Di masa depan, kata Raymond, Green Pharmacy harus menjadi obat integratif untuk pengobatan konvensional, pengobatan gaya hidup, dan terapi komplementer yang terinformasi.

Baca juga: Kemenkes dorong T20 terlibat aktif perluas cakupan kesehatan semesta

"Fitofarmaka tidak hanya bermanfaat bagi pasien, tetapi juga para petani yang menyediakan bahan baku untuk produk Green Pharmacy," ujarnya.

Ia mengatakan hingga saat ini telah tersedia 24 Fitofarmaka. "Menkes melaporkan bahwa hanya 1,2 hingga 3 persen dokter yang meresepkan Fitofarmaka di rumah sakit. Ini adalah sesuatu yang perlu dikerjakan untuk memberi manfaat bagi pasien," katanya.

Raymond mengatakan Green Pharmacy adalah obat berbasis bukti sehingga para dokter dapat mempercayai dan meresepkan produknya. Produk alami tersebut tidak kalah dengan produk konvensional, misalnya Readacid dan produk Omeprazole lainnya.

Indonesia saat ini memiliki Formularium Nasional, tapi terbatas pada lima produk, sehingga perlu ditambah minimal menjadi 20 produk.

"Harus berkolaborasi untuk memastikan Fitofarmaka Green Pharmacy dapat dengan mudah ditambahkan ke dalam formularium. Kita perlu meningkatkan menjadi 40-50 persen untuk resep Green Pharmacy di Indonesia," ujarnya.

T20 merupakan lembaga resmi bagian dari Presidensi G20 yang menjadi wadah pemikiran dan riset isu-isu terkini. Forum tersebut menjadi bank ide yang dibentuk untuk merekomendasikan kebijakan-kebijakan berbasis riset bagi para pemimpin dunia di ajang G20.

Baca juga: Wapres minta ISCOS 2022 dioptimalkan untuk dukung G20 Indonesia