Tabungan Orang Kaya Semakin Naik, Apa Dampaknya Bagi Ekonomi RI?

·Bacaan 2 menit

VIVA – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati tengah mewaspadai kondisi naiknya tabungan orang kaya dan tergerusnya tabungan orang miskin. Kondisi ini terjadi di tengah lonjakan penyebaran COVID-19.

Kewaspadaan Sri tersebut dianggap lambat, lantaran seharusnya sudah bisa diantisipasi sejak diterapkannya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat atau level 4.

Hal itu diungkapkan Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira. Dia menjelaskan, pada dasarnya sejak PPKM darurat awal Juli 2021, kenaikan tabungan orang kaya di perbankan sudah terjadi.

"Sejak PPKM Darurat bulan Juli awal, naiknya kasus harian COVID-19 membuat orang kaya menahan belanja dan masukkan uang ke simpanan bank," kata dia kepada VIVA, Rabu, 4 Agustus 2021.

Baca juga: Luhut Undang BEM UI hingga Faisal Basri Diskusi COVID-19, Ini Hasilnya

Menurut Bhima dengan kondisi tersebut, menyebabkan dana pihak ketiga di perbankan naik. Ini tergambar dari sejumlah laporan keuangan perbankan semester I-2021 yang sudah diumumkan.

"Tapi bagi kelas menengah bawah yang kondisinya makin berat terpaksa harus makan tabungan. Ambil simpanan dan digunakan untuk beli kebutuhan pokok," papar dia.

Dengan naiknya tabungan orang kaya atau yang bernilai di atas Rp100 juta ini, Bhima menilai kondisi ini harusnya sudah menjadi lampu kuning atau bahaya bagi perekonomian.

Penyebabnya, aliran dana di sektor riil terhenti untuk menggerakkan perekonomian secara umum. Sehingga, berdampak pada orang-orang yang memiliki pendapatan menengah ke bawah.

"Apalagi nilai bantuan pemerintah tidak seberapa dan terlambat dicairkan. Harusnya indikasi sejak naiknya kasus harian COVID-19. sudah jadi lampu kuning bagi pemerintah untuk selamatkan kelas menengah bawah," tuturnya.

Sebagai informasi, sebelumnya Sri memaparkan, berdasarkan data statistik Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tabungan masyarakat di atas Rp100 juta dari hari ke hari kian mengalami kenaikan.

Artinya, orang yang memiliki penghasilan berlebih semakin sering hanya menyimpan dananya di perbankan, sedangkan orang yang kurang berkecukupan semakin sering menggunakan dana tabungannya.

"Yang tabungannya di atas Rp100 juta meningkat lebih banyak dibanding mereka yang kemudian menghadapi situasi ekonomi sulit. Oleh karena itu, tabungan di bawah Rp100 juta menurun, ini yang harus kita waspadai," tegas dia kemarin.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel