Taipan Hong Kong Jimmy Lai Ditangkap dan Dijerat UU Keamanan

Ezra Sihite, BBC Indonesia
·Bacaan 5 menit
Jimmy Lai
Jimmy Lai mengatakan bahwa "para penguasa membenci saya", dan ia siap masuk penjara.

Taipan bisnis Hong Kong Jimmy Lai ditangkap dan kantor surat kabarnya digerebek oleh polisi atas tuduhan kolusi dengan kekuatan asing.

Ia menjadi sosok paling terkenal yang ditangkap berdasarkan undang-undang keamanan nasional yang diberlakukan oleh China pada bulan Juni.

Lai adalah suara pro-demokrasi terkemuka dan pendukung protes yang meletus tahun lalu.

Pada bulan Februari, pria berusia 71 tahun itu, yang juga memegang kewarganegaraan Inggris, didakwa dengan perkumpulan ilegal dan intimidasi.

Ia kemudian dilepaskan oleh polisi.

Media pemerintah China, Global Times, pada hari Senin menyebut Lai sebagai "pendukung kerusuhan" dan menuding surat kabarnya telah "memicu kebencian, menyebarkan desas-desus, dan mencoreng otoritas Hong Kong dan China daratan selama bertahun-tahun".

Global Times juga melaporkan bahwa dua putra Lai serta dua eksekutif senior Next Digital juga telah ditangkap.

https://twitter.com/ezracheungtoto/status/1292639860696571904

Puluhan polisi juga terlihat memasuki gedung surat kabar Apple Daily, menggeledah kantor-kantor di dalamnya.

Lai sempat dibawa melewati kantor-kantor dalam keadaan diborgol.

Polisi mengkonfirmasi di Facebook bahwa tujuh laki-laki berusia 39-72 telah ditangkap karena "dicurigai berkolusi dengan kekuataan asing" dan pelanggaran lainnya, tetapi tidak menyebut nama Lai.

Masa depan tak pasti bagi jaringan media pro-demokrasi

Oleh Grace Tsoi, BBC World Service, Hong Kong

Pemandangan hampir 200 petugas polisi menyerbu ruang redaksi Apple Daily, surat kabar pro-demokrasi terbesar di Hong Kong, mengejutkan banyak orang di sini dan pertanda bahwa segala sesuatunya berubah dengan cepat.

Seorang karyawan Apple Daily memberi tahu saya bahwa rekan-rekannya tenang dan telah memperkirakan ini akan terjadi ketika Undang-Undang Keamanan Nasional disahkan.

Lai adalah pengkritik yang sangat vokal, baik pada pemerintah Hong Kong maupun kehadiran Beijing yang semakin tegas di wilayah tersebut.

Karena kritiknya itu, media berita resmi China kerap mencapnya sebagai pemimpin "Geng Empat" yang menyulut kerusuhan di kota. Beijing juga marah ketika ia bertemu dengan Wakil Presiden AS Mike Pence dan Menteri Luar Negeri Mike Pompeo tahun lalu.

Akan tetapi meskipun Next Media sering dikritik karena sensasionalismenya, ia tetap menjadi salah satu dari sedikit outlet media dengan pemilik yang tidak punya kepentingan bisnis di China daratan.

Surat kabar yang sebentar lagi akan merayakan hari jadinya yang ke-25 ini sudah berada di bawah tekanan keuangan. Mereka mengatakan akan menerbitkan edisi hari ini tepat waktu tapi jika pemiliknya yang flamboyan itu dibungkam, tidak jelas apakah mereka akan bertahan.

Siapa Jimmy Lai?

Sang pengusaha itu diperkirakan memiliki kekayaan lebih dari $1 miliar.

Berawal dari kesuksesan di industri pakaian, ia mencoba peruntungan di media dan mendirikan surat kabar Apple Daily, yang kerap mengkritik kepemimpinan Hong Kong dan China daratan.

Pada 2019, harian itu menjadi surat kabar berbayar paling banyak dibaca di Hong Kong, baik versi cetak maupun online, menurut Chinese University of Hong Kong.

Lai juga merupakan seorang aktivis yang menentang cengkeraman Beijing yang semakin ketat di Hong Kong. Pada 2019, ia mendukung dan mengikuti unjuk rasa yang menuntut reformasi.

Pada 30 Juni, ketika undang-undang keamanan disahkan, Lai berkata kepada BBC bahwa ini "lonceng kematian untuk Hong Kong".

Ia memperingatkan bahwa Hong Kong akan menjadi korup seperti China daratan karena "tanpa aturan hukum, orang yang berbisnis di sini tidak akan mendapat perlindungan".

Dalam wawancara terpisah dengan kantor berita AFP, Lai berkata: "Saya siap dipenjara. Jika itu terjadi, saya akan dapat kesempatan untuk membaca buku-buku yang belum saya baca. Satu-satunya hal yang bisa saya lakukan adalah bersikap positif. "

Seperti apa reaksi terhadap penangkapan Lai?

Sumber di Apple Daily yang tidak disebutkan namanya dikutip mengatakan perusahaan itu telah "menghubungi pengacara", menganggap situasi ini sebagai "pelecehan langsung".

Police berjaga di luar gedung Next Digital
Polisi Hong Kong menggerebek gedung Next Digital dan Apple Daily.

Steven Butler, koordinator program Asia dari Komite Perlindungan Jurnalis, mengatakan penangkapan Lai "membenarkan ketakutan terburuk bahwa undang-undang keamanan nasional Hong Kong akan digunakan untuk menekan opini pro-demokrasi yang kritis dan membatasi kebebasan pers".

"Jimmy Lai harus segera dibebaskan dan semua tuduhan terhadapnya dibatalkan," katanya.

Aktivis pro-demokrasi terkemuka Nathan Law menulis di Twitter bahwa "ketakutan terbesar" sedang terwujud.

"Penangkapan gila-gilaan," katanya. "Akhir dari kebebasan pers di Hong Kong. Undang-undang keamanan nasional menginjak-injak kebebasan masyarakat kita, menyebarkan politik ketakutan."

Wang Dan, disiden dan pemimpin mahasiswa yang diasingkan dari protes Lapangan Tiananmen 1989, berkata di media sosial bahwa penangkapan Lai "sudah diperkirakan", namun "sangat berlebihan karena kedua putranya juga ditangkap, yang jelas merupakan upaya pihak berwenang untuk menghancurkan tekad Lai melalui keluarganya".

"Saya meminta komunitas internasional untuk segera mengambil tindakan."

Apa isi undang-undang keamanan yang baru?

Hong Kong menikmati tingkat otonomi yang tinggi sejak kembali ke pemerintahan China pada tahun 1997, dan penduduknya memiliki tingkat kebebasan berbicara dan media yang jauh lebih tinggi daripada orang-orang di China daratan.

Namun ketentuan utama undang-undang keamanan mencakup bahwa kejahatan pemisahan diri, subversi, terorisme dan kolusi dengan kekuatan asing dapat dihukum dengan hukuman maksimal seumur hidup di penjara.

Ini membuat Beijing lebih mudah untuk menghukum pengunjuk rasa, dan mengurangi otonomi Hong Kong.

Bendera China dibakar di Hong Kong.
Pada 2019, muncul gelombang protes anti-Beijing di Hong Kong.

Undang-undang tersebut juga memberi Beijing kekuasaan untuk membentuk kehidupan di Hong Kong, yang merupakan bekas koloni Inggris, dengan cara yang belum pernah ada sebelumnya.

Para pengkritik mengatakan ia praktis membatasi protes dan kebebasan berekspresi. China mengatakan undang-undang baru itu akan mengembalikan stabilitas ke wilayah itu setelah setahun kerusuhan.

Penangkapan dan orang buangan

Sebelumnya, ada dua gelombang penangkapan sejak undang-undang itu disahkan oleh Beijing pada 30 Juni.

Yang pertama adalah penangkapan beberapa pengunjuk rasa ditangkap sehari setelah mereka menggelar demonstrasi.

Pada 30 Juli, empat mahasiswa dan mantan aktivis pro-kemerdekaan ditangkap berdasarkan hukum tersebut.

Aktivis lain, seperti Law, meninggalkan kota sebelum undang-undang keamanan diberlakukan.

Law saat ini berada di Inggris tetapi laporan media menunjukkan bahwa pihak berwenang China sedang mengupayakan penangkapan dia dan aktivis lainnya yang berada dalam pengasingan.