Taiwan Borong Alutsista AS di Tengah Ketegangan AS-China

Aries Setiawan, DW Indonesia
·Bacaan 1 menit

Badan Kerja Sama Keamanan Pertahanan Amerika Serikat (AS) dalam sebuah pernyataan pada Rabu (21/10) waktu setempat mengatakan Departemen Luar Negeri AS telah mengizinkan penjualan senjata ke Taiwan berupa 135 rudal serangan darat presisi SLAM-ER serta peralatan terkait lainnya.

"Penjualan ini melayani kepentingan nasional, ekonomi, dan keamanan AS dengan mendukung upaya berkelanjutan negara pembeli untuk memodernisasi angkatan bersenjatanya dan untuk mempertahankan kemampuan pertahanan yang kredibel," kata pernyataan itu.

Penjualan tersebut juga akan meningkatkan keamanan Taiwan dan membantu menjaga stabilitas politik, keseimbangan militer, dan kemajuan di wilayah tersebut.

"Negara pembeli akan dapat menggunakan sistem senjata sangat handal dan efektif untuk meningkatkan efektivitas militer mereka sesuai kebutuhan, yang dapat melawan atau mencegah agresi dengan menunjukkan ketepatan terhadap target lawan," tambah pernyataan itu.

Modernisasi kemampuan perang Taiwan

Kesepakatan transaksi alutsista itu muncul saat AS tengah bersitegang dengan Cina. Tidak hanya itu, Cina juga mengklaim pulau demokratis itu sebagai bagian dari wilayahnya meski Taiwan telah memiliki pemerintahan merdeka sejak 1949.

Pemerintahan Presiden Taiwan Tsai Ing-wen pada hari Kamis (22/10) mengapresiasi AS dan mengatakan transaksi alutsista akan secara signifikan meningkatkan kepercayaan dan kemampuan Taipei untuk mengejar perdamaian dan stabilitas di wilayah tersebut.

"Pembelian tersebut membantu meningkatkan kemampuan pertahanan nasional Taiwan yang solid dan memodernisasi kemampuan tempur," kata juru bicara Kantor Kepresidenan Taiwan Xavier Chang dalam sebuah pernyataan.

Alutsista yang baru dibeli tersebut juga akan membantu meningkatkan kemampuan Taiwan untuk menangani ekspansi militer dari sisi lain Selat Taiwan, kata Chang. Selat selebar 180 kilometer itu memisahkan Taiwan dari daratan Cina.

ha/pkp (AP)