Tak Ada Gejala, Wanita Ini Malah Menularkan COVID-19 Selama 70 Hari

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta Sebuah laporan menunjukkan seorang wanita positif COVID-19 yang asimptomatik (tanpa gejala) di negara bagian Washington. Ia disebut menumpahkan partikel virus COVID-19 selama 70 hari, yang berarti dia menular selama itu, meskipun tidak pernah menunjukkan gejala penyakit .

Wanita berusia 71 tahun itu menderita sejenis leukemia, atau kanker sel darah putih, sehingga sistem kekebalan tubuhnya melemah dan kurang mampu menghilangkan virus corona baru, yang dikenal sebagai SARS-CoV-2 dari tubuhnya sendiri. Meskipun para peneliti telah menduga penularan virus oleh orang dengan sistem kekebalan yang lemah akan lebih lama dari biasanya.

Namun bukti tentang hal tersebut masih sedikit, terlebih bertentangan dengan pedoman dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) yang mengatakan orang dengan gangguan kekebalan yang terpapar COVID-19 kemungkinan tidak akan menular setelah 20 hari.

Namun dengan temuan baru ini menjadi bukti penularan COVID-19 oleh pasien imunokompromis tertentu bisa berjangka panjang dan perlu perhatian khusus, catat penulis penelitian yang diterbitkan Rabu (4/11/2020) di jurnal Cell.

"Karena virus ini terus menyebar, lebih banyak orang dengan berbagai gangguan imunosupresif akan terinfeksi, dan penting untuk memahami bagaimana COVID-19 berperilaku dalam populasi ini," kata penulis senior studi Vincent Munster, seorang ahli virus di National Institute of Allergy and Infectious Diseases dalam pernyataan pers, seperti dilansir Livescience.

Kasus yang Tidak Biasa

Seorang wanita yang mengenakan masker untuk membantu mengekang penyebaran COVID-19 mengendarai sepeda di Tokyo, Jepang, Senin (2/11/2020). Tokyo mengonfirmasi lebih dari 80 kasus baru COVID-19 pada 2 Oktober 2020. (AP Photo/Eugene Hoshiko)
Seorang wanita yang mengenakan masker untuk membantu mengekang penyebaran COVID-19 mengendarai sepeda di Tokyo, Jepang, Senin (2/11/2020). Tokyo mengonfirmasi lebih dari 80 kasus baru COVID-19 pada 2 Oktober 2020. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Wanita tersebut terinfeksi pada akhir Februari selama wabah COVID-19 pertama yang dilaporkan di negara itu, yang terjadi di fasilitas rehabilitasi Life Care Center di Kirkland, Washington, yang ia sendiri merupakan pasien di sana.

Dia dirawat di rumah sakit karena anemia terkait kankernya pada 25 Februari, dan dokter memeriksa keberadaan COVID-19 padanya karena ia berasal dari daerah pusatnya wabah tersebut. Dan benar, ia dinyatakan positif pada 2 Maret.

Selama 15 minggu kemudian, ia dites COVID-19 lebih dari selusin kali. Itu karena virus terdeteksi di saluran pernapasan bagian atas selama 105 hari; dan partikel virus menular (mampu menyebarkan penyakit) terdeteksi setidaknya selama 70 hari. Sampai para peneliti mampu mengisolasi virus dari sampel pasien dan menumbuhkannya di laboratorium untuk diteliti lebih lanjut. Mereka bahkan sampai bisa menangkap gambar virus menggunakan pemindaian dan transmisi mikroskop elektron.

Biasanya, orang terinfeksi COVID-19 hanya menularkan virus sekitar delapan hari setelah terinfeksi. Adapun dalam salah satu penelitian melaporkan durasi terlama penyebaran COVID-19 selama 20 hari.

Peneliti berhipotesis virus pada wanita tersebut aktif begitu lama karena tubuhnya tidak meningkatkan respons imun yang tepat. Itu sejalan berdasarkan sampel darah wanita tersebut yang rupanya tidak mengandung antibodi terhadap COVID-19.

Wanita itu dirawat dengan dua putaran plasma dari penyintas COVID-19 yang pulih dan mengandung antibodi untuk melawan penyakit tersebut. Ia dinyatakan bersih dari infeksi setelah perawatan kedua, meskipun tidak ada cara untuk mengetahui apakah plasma yang diberikan dapat membantunya. Karena bahkan setelah dua putaran transfusi, konsentrasi antibodi pada wanita itu masih tergolong rendah.

Para penulis juga melakukan pengurutan genetik SARS-CoV-2 selama infeksi pada wanita tersebut, dan melihat bahwa virus mengembangkan beberapa mutasi dari waktu ke waktu. Namun, mutasi tidak mempengaruhi seberapa cepat virus bereplikasi. Selain itu, penulis tidak melihat bukti bahwa salah satu mutasi ini memberi virus keuntungan bertahan hidup, karena tidak ada varian mutasi yang menjadi dominan selama masa infeksi.

Misteri yang Belum Terpecahkan

Bagaimana tepatnya wanita itu bisa bersih dari virus tidak diketahui maka dari itu harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut dalam penelitian mendatang yang melibatkan pasien dengan sistem kekebalan yang lemah, saran penulis penelitian.

Selain itu, menurut CDC, para peneliti tidak tahu mengapa wanita itu tidak pernah mengalami gejala COVID-19 meskipun sistem kekebalannya terganggu, yang menempatkannya pada risiko lebih tinggi terkena penyakit parah.

Munster mengatakan kepada Live Science melalui e-mail bahwa mungkin kita berpikir status imunokompromisnya yang memungkinkan virus menyebar dari saluran pernapasan atas (seperti kasus flu biasa) ke saluran pernapasan bawah (seperti pada kasus pneumonia). Bahkan pasien mampu menginfeksi setidaknya selama 105 hari, namun ia benar-benar tidak menunjukkan gejala apapun. Sehingga ini masih menjadi misteri bagi mereka.

Para penulis mencatat bahwa penelitian mereka hanya melibatkan satu kasus, sehingga temuan tersebut mungkin tidak berlaku untuk semua pasien dengan kondisi imunokompromis lainnya.

"Diperkirakan 3 juta orang di AS memiliki kondisi imunokompromi, termasuk orang dengan HIV, serta mereka yang telah menerima transplantasi sel induk, transplantasi organ dan kemoterapi," kata penulis.

“Sehingga memahami mekanisme persistensi virus dan pembersihannya [pada pasien dengan gangguan kekebalan] akan sangat penting untuk menyediakan pengobatan yang tepat dan mencegah penularan SARS-CoV-2,” tutup penulis menyimpulkan laporannya.

Infografis Dokter Berguguran di Medan Tempur Covid-19

Infografis Dokter Berguguran di Medan Tempur Covid-19 (Liputan6.com/Triyasni)
Infografis Dokter Berguguran di Medan Tempur Covid-19 (Liputan6.com/Triyasni)

Simak Juga Video Berikut Ini: