Tak Ada Tanda Terima DVR CCTV Rumah Sambo, Hakim Sindir: Beli Pisang Saja Pakai Resi

Merdeka.com - Merdeka.com - Mantan penyidik Polres Jakarta Selatan, Ipda Arsyad Daiva Gunawan kena semprot majelis hakim sidang kematian Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J. Menurut hakim, Ipda Arsyad tidak menjalankan tugas dengan benar sebagai penyidik saat proses penyitaan barang bukti usai Brigadir J dieksekusi.

Kejengkelan hakim bermula saat mencecar proses penyerahan DVR CCTV dari Chuck Putranto kepada Polres Metro Jakarta Selatan. Hakim geram dengan proses kerja para saksi penyidik.

"Kalau seorang penyidik melakukan penyelidikan tentu dia memerlukan barbuk DVR itu, saudara tahu gak fungsi DVR untuk membuat terang peristiwa pidana tahu? Kenapa kalay tahu, tidak menerima tanda terima barang bukti?" kata Hakim saat sidang di PN Jakarta Selatan, Kamis (10/11).

"Pada saat itu belum," jawab Arsyad.

"Waktu nerima barbuk diregister, dinomorin gak?" tanya kembali hakim.

"Belum, baru kami terima masih nyala apa tidak," jawab kembali Arsyad.

Penyidik Tak Jalankan Tugas dengan Baik

Singkatnya setelah mencecar soal tidak adanya surat penyitaan DVR CCTV, Majelis Hakim menyemprot para saksi karena tidak menjalankan tugas sebagaimana mestinya.

"Harus ada penyitaan, tindakan itu harus dengan berita acara ya, tindakan arbitrasi kepolisian itu nda main serah-serah begitu aja kaya menyerahkan beli goreng pisang," kata Hakim.

"Sedangkan beli goreng pisang aja pakai tanda terima pake resi. Beli makanan pakai tanda terima apalagi barang bukti. Masa barang bukti gak pakai berita acara, main serahkan begitu aja, gak bener itu, mestinya beberapa data dilengkapi," tambah Hakim.

Sekadar informasi, sederet mantan penyidik Polres Jakarta Selatan hadir sebagai saksi di persidangan dengan terdakwa Irfan Widyanto. Mereka adalah, adalah Ridwan Janari; Dimas Arki; Dwi Robiansyah; dan Arsyad Daiva Gunawan. [lia]