Tak Ada Teman di Kelas, Satu-satunya Murid Baru SDN Sriwedari 197 Solo Tetap Semangat

Merdeka.com - Merdeka.com - Tekad Azzam Maruf Bi Qolbi (6) satu-satunya siswa baru di SDN Sriwedari 197 Solo patut diacungi jempol. Meski hanya sendiri di kelas, bocah asal Kelurahan Panularan itu tak patah semangat.

Azzam tetap serius dan lancar mengikuti setiap pelajaran. Saat sejumlah wartawan berkunjung ke ruang kelas, dia sedang mengikuti pelajaran mewarnai bersama guru kelas Diyan Alfiyana.

Bocah berambut gondrong itu nampak bersemangat mengoleskan pensil warna di atas kertas gambar berwarna putih.

"Semangat belajar hari ini. Tadi sudah belajar menghafal lagu 'Pergi Sekolah', menyusun puzzle SD Sriwedari," ujar Azzam.

Selain itu, Azzam mengaku telah belajar membuat kartu nama, bermain kartu huruf dengan menyebutkan bendanya, dan lainnya. Meski hanya sendiri, bocah ini mengaku tidak takut.

"Enggak takut, tetap semangat sekolah terus," tandasnya.

Guru Sudah Terbiasa

Guru kelas 1 SDN Sriwedari 197 Diyan Alfiyana mengatakan, sebenarnya total ada 2 siswa kelas 1. Satu siswa merupakan hasil Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) dan satunya lagi siswa lama yang tinggal kelas. Namun satu siswa tersebut jarang masuk kelas.

"Alhamdulillah tetap menyenangkan sama seperti tahun lalu yang siswanya juga sedikit. Kalau kendala saya kira tidak ada, sudah terbiasa dulu juga lima siswa. Dengan sedikitnya siswa saya harap bisa lebih dekat, lebih fokus," katanya.

Kepala SDN Sriwedari 197 Bambang Suryo Riyadi mengemukakan, pada awalnya ada 3 siswa yang mendaftar di sekolahnya. Namun dua pendaftar di antaranya menempatkan SDN Sriwedari sebagai opsi kedua.

"Ada 2 siswa lainnya yang daftar sebenarnya. Mereka itu bukan ditolak, tapi mereka SDN Sriwedari hanya menjadi pilihan kedua. Yang satu masuk di SD Tumenggungan, dan yang satunya masuk SD Mangkubumen," jelasnya.

Dampak Sistem Zonasi

Bambang mengakui, sejak diterapkannya sistem zonasi, jumlah peserta didik baru di sekolahnya terus mengalami penurunan. Tahun lalu, lanjut dia, hanya ada 5 peserta didik baru. Empat di antaranya sudah naik ke kelas 2, sedangkan 1 siswa harus tinggal kelas.

Bambang pun mengungkapkan penyebab sekolahnya sepi peminat. Menurut dia, lingkungan sekitar SDN banyak ditinggalkan warga. Rumah yang ada di sana sudah beralih fungsi menjadi perhotelan, perkantoran dan lapangan.

"Jadi di sini penduduknya sudah banyak berkurang. Dulu banyak, tapi setelah dibangun GOR Sritek Arena, banyak yang pindah," katanya.

Selain sistem zonasi, persaingan dengan sekolah swasta juga menjadi salah satu faktor penyebab sepinya peminat SDN Sriwedari. Apalagi sekolah swasta lebih awal membuka pendaftaran.

"Jadi untuk swasta bisa memilih siswa, kalau negeri sisa dari swasta," keluhnya.

Jam Belajar Tak Berubah

Jika dilihat dari sistem yang berlaku, zonasi SDN Sriwedari meliputi Kelurahan Panularan, Penumping, Kemlayan dan Sriwedari. Menyikapi hal tersebut Bambang mengaku sistem pembelajaran yang dilakukan hanya tampak seperti les privat biasa.

"Pembelajarannya seperti les, seperti privat. Mau gimana lagi, muridnya juga sedikit, untuk persaingan juga tidak ada," sebutnya.

Kendati demikian, lanjut dia, pembelajaran selama pandemi tetap berlangsung seperti biasa. Jam masuk siswa dimulai pukul 7.30 WIB dan berakhir pukul 10.45 WIB.

Dia memaparkan ada wacana regrouping antara SDN Sriwedari dengan SD Panularan. Namun rencana itu belum direalisasikan. [yan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel