Tak Asal Menggelar Pesta, Ini 6 Mitos Larangan Pernikahan Menurut Adat Jawa

·Bacaan 2 menit

Fimela.com, Jakarta Dalam tradisi masyarakat Jawa, menikah tidak hanya sekedar menggelar pesta. Begitu banyak hal yang perlu diperhatikan sebelum melangsungkan pernikahan misalnya menentukan hari baik.

Pertemuan untuk menentukan tanggal yang baik biasanya masih dilakukan oleh pasangan yang akan menikah yang masih mempercayai dalam adat Jawa. Pasalnya, jika tanggal yang dipilih tidak sesuai, ada hal yang dikhawatirkan misalnya seperti rumah tangga yang tidak langgeng. Melansir dari 1news.my.id (9/10), tak hanya tanggal pernikahan, ternyata ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat akan menikah, termasuk larangannya. Penasaran apa saja larangannya? Yuk, simak selengkapnya di bawah ini.

TERKAIT: 7 Jenis Batik yang Dipakai dalam Pernikahan Adat Jawa

TERKAIT: Menikah dengan Pakem Adat Jawa, Tiap Prosesinya Begitu Indah dan Penuh Makna

TERKAIT: Menilik Urutan Pernikahan Adat Jawa yang Penuh Makna

1. Bulan Suro atau Muharram Bulan yang Perlu Dihindari

Saat menentukan tanggal, biasanya bulan Suro atau Muharram adalah bulan yang dihindari untuk melangsungkan pernikahan. Bulan ini akan dihindari karena diyakini sebagai bulan suci. Konon bulan Suro, Nyai Roro Kidul mengadakan hajatan sehingga masyarakat dilarang mengadakan pesta jika tidak ingin bernasib sial.

2. Larangan Pernikahan antara Anak Pertama dan Ketiga

Pernikahan antara anak pertama dan ketiga atau biasa disebut jilu (siji karo telu) juga dilarang dalam budaya Jawa. Jika Sahabat Fimela adalah anak pertama dan pasanganmu anak ketiga atau sebaliknya, ditambah orangtuamu masih percaya pada tradisi Jawa, sepertinya kamu harus lebih banyak berjuang. Hal ini disebabkan adanya mitos yang melarang anak pertama dan ketiga menikah karena akan menimbulkan kesialan seperti tidak akur dan bercerai.

3. Larangan Pernikahan Siji Berjajar Telu

Selain jilu, pernikahan siji berjajar telu (satu dari tiga baris) juga dianggap tidak baik untuk tradisi pernikahan Jawa. Siji jejer telu dimaksudkan jika kamu, pasangan, dan salah satu orangtuamu adalah anak pertama. Hal ini dinilai tidak baik dan jika dilakukan secara sembrono akan mendatangkan malapetaka bagi rumah tangga pasangan nantinya.

4. Rumah Pasangan Hanya Berjarak Lima Langkah atau Berseberangan

Ilustrasi Pernikahan Adat Jawa Credit: pexels.com/Deden
Ilustrasi Pernikahan Adat Jawa Credit: pexels.com/Deden

Rumah pasanganmu hanya berjarak lima langkah? Coba cek dulu rumah kamu berseberangan atau tidak. Jika kamu dan pasangan memiliki rumah yang berseberangan, kamu harus legowo karena dalam tradisi Jawa ternyata rumah saling berhadapan apalagi jika kamu bertetangga maka pernikahanmu akan mengalami kekurangan jika masih dipaksakan.

5. Perhitungan Weton

Weton sangat penting untuk berbagai perhitungan dalam adat Jawa, salah satunya untuk pernikahan juga. Sebelum memberikan restu, biasanya wetonmu dan pasangan akan dihitung dan dicocokkan. Ternyata ada beberapa weton yang dianggap tidak cocok untuk dinikahi. Jika ternyata kamu tidak cocok, pernikahan harus dibatalkan jika kamu tidak ingin nasib buruk.

6. Rumah Pasangan Dekat dengan Rumah Ipar

Jika rumah pasangan kamu berdekatan dengan rumah kakak atau ipar kamu, mungkin kamu bertemu dengan pasangan karena sering berkunjung ke rumah saudara ipar. Tapi, ternyata jika kamu menikah dengan dia yang satu kampung dengan kakakmu, menurut kepercayaan, salah satu orangtuamu akan meninggal.

Hal-hal tersebut mungkin tidak semuanya dipercaya, namun ternyata banyak juga kisah viral yang menceritakan kasus penolakan dari orangtua pasangan yang masih mempercayai mitos ini, entah karena weton, anak keberapa, atau karena posisi rumah. Jika ya, apakah Sahabat Fimela masih percaya dengan mitos ini?

#ElevateWomen

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel