Tak Berani Berikan Sanksi Berat, Israel Tuding PBB 'Backup' Iran

Rifki Arsilan

VIVA – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menuduh komunitas internasional telah berkolusi dengan Iran terkait dengan upaya Iran dalam mengembangkan senjata nuklirnya. Tidak hanya itu, Netanyahu juga menuding dunia internasional seolah-olah tutup mata dengan upaya agresi militer Iran di Timur Tengah. 

Menurut Netanyahu selama ini Iran yang harus bertanggung jawab atas tumbuh kembangnya kekuatan teroris di Timur Tengah. Karena selama ini Iran yang telah mensuplay persenjataan, melatih, serta membiayai teroris di Timur Tengah. 

Hal itu disampaikan Netanyahu ketika melakukan pertemuan dengan Perwakilan Khusus Amerika Serikat untuk Iran, Brian Hook pada hari Selasa, 30 Juni 2020 kemarin.

Dengan demikian, Netanyahu mendesak Amerika Serikat (AS) untuk meningkatkan sanksi terhadap Iran terkait dengan dugaan produksi senjata nuklir yang dilakukan oleh Taheran. 

“Saya yakin ini saatnya menerapkan sanksi snapback. Saya kira kita tidak bisa menunggu. Kita tidak harus menunggu Iran memulai pelariannya menjadi senjata nuklir, karena dengan begitu akan terlambat untuk memberikan sanksi,” kata Benjamin Netanyahu dikutip VIVA Militer dari Sputnik News, Rabu, 1 Juli 2020.

Menanggapi usulan Netanyahu, Brian Hook mengatakan, Amerika sangat memperhatikan pengembangan nuklir yang dilakukan Iran. Namun, terkait dengan peningkatan sanksi embargo terhadap Iran, Amerika masih mempertimbangkan tanggal kadaluwarsa yang telah ditetapkan oleh PBB, yaitu hingga bulan Oktober mendatang. 

Menurut Hook, jika sampai pada bulan Oktober peringatan sanksi PBB itu tidak diindahkan oleh Iran maka tidak menutup kemungkinan peningkatan sanksi terhadap Iran akan dilakukan.

"Pada upaya untuk memperpanjang embargo senjata PBB terhadap Iran melewati tanggal kedaluwarsa Oktober, dan memperingatkan bahwa kegagalan untuk melakukan hal itu akan memungkinkan Iran untuk tidak bisa "mengimpor pejuang secara bebas jet, helikopter serang, kapal perang, kapal selam dan senjata lainnya, dan kemudian diekspor kembali ke Hizbullah, Hamas, milisi Irak, dan milisi Houthi di Yaman, di antara kelompok-kelompok lain," kata Hook.

Untuk diketahui, beberapa pekan terakhir Israel memang sangat gencar melobi pemerintahan Trump untuk meningkatkan tekanan sanksi terhadap iran. Israel juga meminta Badan Energi Atom Internasional (IAEA) untuk memutuskan hubungan dengan Iran atas dugaan program senjata nuklir yang saat ini tengah digarap Taheran.

Taheran pun menanggapi dingin desakan Israel tersebut. Iran mengaku pihaknya tidak berniat mengejar senjata nuklir atau senjata pemusnah massal apapun. Bahkan, Iran menuding bahwa Israel lah yang menjadi satu-satunya negara senjata nuklir di Timur Tengah. 

Sementara, Awal bulan ini, IAEA melaporkan bahwa Iran telah meningkatkan aktivitas pengayaan uraniumnya di luar tingkat kemurnian 3,67 persen yang digariskan oleh kesepakatan nuklir menjadi 4,5 persen. Ini masih jauh di bawah perkiraan tingkat pengayaan 80-90 persen yang dibutuhkan untuk membangun bom nuklir. Dengan demikian, upaya pengembangan nuklir Iran masih tergolong aman di mata IAEA.

Baca : Israel Ancam Hancurkan Suriah Jika Assad Bersekutu dengan Iran