Tak Bisa Raih Orgasme, Istri Harus Bagaimana?

Liputan6.com, Jakarta Bukan rahasia jika sebagian wanita tak selalu meraih orgasme ketika bercinta. Kondisi tersebut nyata dan kaum hawa yang kesulitan untuk mencapai klimaks biasanya mengalami anorgasmia atau Sindrom Coughlan.

Melansir laman Daily Star, kondisi sulit meraih orgasme dialami 5-10 persen wanita dan persentase yang lebih sedikit dari pria. Meski demikian, tak jelas apa yang menyebabkan kondisi tersebut.

Masing-masing individu mengatasi kesulitan orgasme dengan cara berbeda. Namun, yang perlu diketahui, ada berbagai cara untuk meningkatkan kemungkinan meraih orgasme. Dan untungnya, anorgasmia bisa disembuhkan meski terkadang tidak dalam waktu singkat atau mudah.

Kondisi sulit meraih orgasme bisa disebabkan oleh masalah fisik, emosional, atau psikologis. Atau bahkan kombinasi ketiganya. Artinya, penanganan terhadap hal tersebut harus bervariasi.

Managing director Kegel8 Stephanie Taylor membagikan beberapa cara untuk membantu meningkatkan kesempatan Anda meraih orgasme.

 

Terapi Estrogen dan Eksperimen

Bagi Anda yang memasuki masa menopause atau post-menopause, terapi estrogen bisa meningkatkan gairah seks. Terapi estrogen bisa berbentuk pil, patch atau gel yang meredakan efek samping menopause seperti atrofi vagina, atau penurunan libido.

Namun, bila Anda merasa tak bisa mengontrol kembali, cara terbaik untuk mengatasi anorgasmia adalah dengan bereksperimen atau merasakan. Kenali tubuh Anda dan apa yang Anda rasakan ketika terhubung dengan diri sendiri atau pasangan.

Perlu diingat bahwa setiap orang terstimulasi oleh hal berbeda dan saat Anda tahu apa yang bisa Anda nikmati, peluang untuk meraih orgasme lebih besar.

Anda tak perlu terburu-buru dan lakukan hal yang Anda rasa nyaman serta berusahalah terbuka pada pasangan. Ingat bahwa sebagian besar wanita perlu stimulasi klitoris langsung atau pun tak langsung untuk mencapai klimaks. Jadi fokuskan perhatian pada hal ini.

Jika pendekatan holistik ini tak berhasil, mungkin sudah saatnya Anda mencari bantuan dari dokter, terapis seks atau konselor hubungan. Tak perlu sungkan karena bukan hanya Anda seorang yang mengalami hal ini.