Tak Cuma Hoaks, Dokumen Perjalanan Palsu Juga Hambat Penanganan Pandemi Covid-19

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Vaksinasi covid-19 menjadi dan penerapan protokol kesehatan yang ketat menjadi senjata untuk mengakhiri pandemi covid-19. Namun banyaknya hoaks dan dokumen palsu terkait syarat perjalanan menjadi masalah tersendiri yang dialami di seluruh dunia.

Tak hanya terjadi di luar negeri, di Indonesia beberapa orang juga mencoba memalsukan dokumen seperti sertifikat vaksin covid-19 atau surat pemeriksaan swab agar bisa melakukan perjalanan. Tentu hal ini sangat berbahaya dalam upaya pencegahan penyebaran penyakit tersebut.

Itu sebabnya masyarakat diminta untuk tetap mematuhi persyaratan yang telah ditetapkan Pemerintah, termasuk dokumen perjalanan.

"Kami berharap masyarakat yang ingin melakukan perjalanan agar dalam kondisi yang sehat. Jadi kalau memang tidak sehat janganlah memaksa untuk bepergian," ujar Kapolresta Denpasar Kombes Pol Jansen Avitus Panjaitan saat hadir dalam pembukaan Bumame Farmasi di Bali, akhir pekan lalu.

"Tentu kami ingin memastikan semua persyaratan terpenuhi bagi yang ingin liburan ke Bali, dan kami akan terus kerjasama dengan seluruh pihak mendukung aturan pemerintah. Jangan lagi ada masyarakat yang coba-coba memalsukan dokumen atau pakai sertifikat vaksin covid-19 palsu untuk bisa bepergian," katanya menambahkan.

*** Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Ada 2 Kasus

Cek Fakta dokumen palsu covid-19
Cek Fakta dokumen palsu covid-19

Ia juga mengungkapkan ada dua kasus yang sedang menjalani proses hukum terkait pemalsuan dokumen tes PCR.

"Jadi ada dua kasus, yang satu sama sekali tidak pernah melakukan pemeriksaan baik swab antigen atau swab PCR dan satu kasus dia sudah melakukan swab antigen tetapi diubah suratnya menjadi swab PCR. Tentu ini berbahaya dan jika memaksakan diri bisa saja dia menyebarkan penyakit pada orang lain."

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Melawan hoaks sama saja melawan pembodohan. Itu yang mendasari kami membuat Kanal Cek Fakta Liputan6.com pada 2018 dan hingga kini aktif memberikan literasi media pada masyarakat luas.

Sejak 2 Juli 2018, Cek Fakta Liputan6.com bergabung dalam International Fact Checking Network (IFCN) dan menjadi partner Facebook. Kami juga bagian dari inisiatif cekfakta.com. Kerja sama dengan pihak manapun, tak akan mempengaruhi independensi kami.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silakan menyampaikan di email cekfakta.liputan6@kly.id.

Ingin lebih cepat mendapat jawaban? Hubungi Chatbot WhatsApp Liputan6 Cek Fakta di 0811-9787-670 atau klik tautan berikut ini.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel