Tak Hanya Bank Indonesia, Ini Sederet Negara Naikkan Suku Bunga Acuan

Merdeka.com - Merdeka.com - Bank Indonesia (BI) resmi menaikkan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DDR) sebesar 0,50 basis poin (bps) menjadi 4,25 persen. Bank Sentral juga mengerek suku bunga Deposit Facility sebesar 50 bps menjadi 3,50 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 50 bps menjadi 5,00 persen.

Analis Utama Ekonomi Politik LAB45, Reyhan Noor mengatakan meski cukup agresif, kenaikan ini disebut masih dalam rentang yang wajar. "Kenaikan suku bunga sebesar 50 bps cukup mengagetkan meskipun masih dalam rentang yang wajar," katanya kepada wartawan di Jakarta, Jumat (23/9).

Reyhan menjelaskan, kebijakan BI untuk menaikkan suku bunga sudah tepat. Mengingat, Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve juga menaikkan suku bunganya.

BI, lanjutnya, pun tidak sendiri dalam menaikkan suku bunga. Beberapa bank sentral negara lain seperti Filipina, Inggris, dan Eropa pun juga melakukan kebijakan yang sama.

"Menurut saya, kebijakan ini sudah tepat mengingat inflasi domestik yang sudah dapat dipastikan meningkat akibat kenaikan harga BBM pada awal bulan lalu," ujarnya.

Lebih lanjut, kenaikan suku bunga juga dinilai berfungsi untuk mengelola ekspektasi masyarakat ke depan. Ekspektasi ini termasuk rencana pembelian barang dan jasa di masa depan.

Dengan adanya kenaikan suku bunga, kata Reyhan, masyarakat akan berpikir dua kali untuk melakukan pembelian. Oleh karena itu, permintaan akan berkurang yang pada akhirnya mempengaruhi harga agar tidak terlalu naik signifikan.

Namun demikian, dia berpandangan harga barang dan jasa yang tinggi tidak serta merta dapat langsung turun karena kenaikan harga bukan karena faktor permintaan yang meningkat.

"Hal ini disebabkan oleh kenaikan harga sebenarnya terjadi bukan karena permintaan yang meningkat melainkan masalah eksternal yang menyebabkan adanya disrupsi supply sejak pandemi covid-19," ujar Reyhan.

Jaga Nilai Tukar Rupiah

Reyhan menerangkan, kenaikan suku bunga tentunya tidak hanya ditujukan untuk meredam inflasi, melainkan juga bertujuan untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Dalam konteks meredam inflasi, kenaikan suku bunga akan mempengaruhi ekspektasi konsumen sehingga berpotensi mempengaruhi konsumsi dan pada akhirnya pertumbuhan ekonomi.

"Di sisi lain, kenaikan suku bunga justru akan mampu menjaga kinerja ekspor dan impor dalam konteks menjaga stabilitas nilai tukar," ujarnya.

Untuk diketahui, nilai tukar Rupiah sampai dengan 21 September 2022 terdepresiasi 4,97 persen secara year to date (ytd) dibandingkan dengan level akhir 2021. Capaian ini relatif lebih baik dibandingkan dengan depresiasi mata uang sejumlah negara berkembang lainnya, seperti India 7,05 persen, Malaysia 8,51 persen, dan Thailand 10,07 persen.

Kurs Rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Jumat pagi (23/9) melemah 3 poin atau 0,02 persen ke posisi Rp15.026 per USD dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp15.023 per USD. [idr]