Tak Hanya untuk Pencernaan, Ini Manfaat Baik Puasa untuk Kesehatan Kulit

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Jakarta - Keadaan dan kondisi kulit kita dipengaruhi oleh banyak hal.

Selain faktor lingkungan seperti paparan sinar matahari dan polusi, kebiasaan makan kita juga berdampak signifikan pada penampilan dan rasa kulit kita.

Mengutip laman Bright Side, Minggu (3/1/2021), puasa menjadi trend yang berkembang belakangan ini, terutama karena beberapa praktisi pengobatan alternatif menyatakan bahwa perubahan pola makan dapat mencegah timbulnya jerawat, kanker kulit, atau bahkan penuaan pada kulit dan puasa untuk meningkatkan kesehatan kulit sedang menjadi trend saat ini.

Gagasan yang ada di balik praktik puasa menunjukkan bahwa tubuh mendetoksifikasi dirinya sendiri karena ada penurunan konsumsi kalori harian Anda. Ini, pada gilirannya, mengarah pada penurunan kadar kolesterol dan trigliserida dalam tubuh Anda.

Studi terbaru mengeksplorasi manfaat metode ini pada pasien dengan penyakit inflamasi (seperti dermatitis atopik ) dengan hasil yang sangat positif dan peningkatan yang cukup besar setelah melakukan berbagai jenis diet, termasuk puasa.

Menurunkan Risiko Kanker Kulit

Ilustrasi Munculnya Permasalahan Pada Kulit Wajah Credit: pexels.com/Jaoa
Ilustrasi Munculnya Permasalahan Pada Kulit Wajah Credit: pexels.com/Jaoa

Penelitian lain mengenai efek puasa tampaknya menunjukkan bahwa puasa dapat membantu mengurangi risiko kulit atau jenis kanker lainnya.

Ternyata, puasa juga bisa membantu mengurangi penyebaran sel kanker. Namun, penelitian ini baru dilakukan pada tikus saat ini. Tetapi memberikan hasil yang menggembirakan karena para ilmuwan melihat jumlah sel induk hematopoietik (HSC) bertambah.

Sel-sel dengan nama yang lucu inilah yang bertanggung jawab untuk membuat sel darah baru.

Fakta bahwa terdapat lebih banyak HSC dan sel darah secara umum berarti bahwa, dalam jangka panjang, sistem kekebalan dapat melawan kanker dengan lebih efisien.

Upaya telah dilakukan untuk mengekstrapolasi hasil penelitian ini kepada manusia, namun sejauh ini tidak ada yang mencapai kesimpulan yang didukung oleh komunitas ilmiah.

Simak video pilihan berikut: