Tak Lagi Eksploitasi Batu Karang, Warga Papua Kini Lebih Pilih Jaga Mangrove

·Bacaan 2 menit
(Foto:Dok.Badan Restorasi Gambut dan Mangrove)

Liputan6.com, Jakarta Memiliki luas 3,36 juta hektare, kawasan hutan mangrove di Indonesia menjadi salah satu yang terluas di dunia. Kekayaan alam yang melimpah inilah yang harus dijaga oleh seluruh rakyat Indonesia.

Sekitar 1,5 juta hektare sebaran mangrove Indonesia berada di Papua dan Papua Barat. Sayangnya, 6% diantaranya mengalami kerusakan, salah satunya di Kelurahan Klamana Sorong, Papua Barat.

Menurut Ketua Kelompok Tani Hutan Klamana, Demianus Werbete mengatakan kerusakan mangrove salah satunya dipicu adanya pengambilan batu karang, sebagai mata pencaharian masyarakat.

“Masyarakat sementara ini kan mata pencahariannya di sini mengambil batu karang. Mereka tahu sebenarnya itu merusak alam, namun ini kan masalah perut, jadi mereka mau gak mau ya ambil batu karang akhirnya,” ujar Werbete.

Seperti diketahui, dampak eksploitasi batu karang bisa menyebabkan gelombang atau ombak yang menuju daratan atau pantai menjadi besar, ekosistem laut menjadi rusak dan hewan laut pun akan stres dan bermigrasi ke tempat lain. Oleh karena itu, rehabilitasi mangrove menjadi salah satu cara mengatasinya

Di Kelurahan Klamana, tutur Werbete, telah ada bantuan pemerintah untuk melestarikan ekosistem mangrove, salah satunya dari Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM). Program rehabilitasi mangrove yang dijalankan BRGM adalah penanaman bibit mangrove dengan melibatkan masyarakat secara langsung.

“Warga yang terlibat adalah 40 orang. Kami tanam di kawasan mangrove seluas 50 hektare. Terima kasih pemerintah atas bantuannya. Sudah ubah mindset warga, karena mangrove bisa menjadi sumber penghasilan tambahan dan meningkatkan perekonomian mereka,” lanjutnya.

Sejalan dengan Werbete, Ina Roselina Sikirit selaku Ketua Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) Unit II Sorong, Papua Barat mengatakan program rehabilitasi mangrove bisa membantu perekonomian warga, dan sejalan dengan tujuan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dimasa pandemi.

“Kami bersinergi tanam mangrove, bikin keramba atau tambak. Kepiting di sini banyak, jadi berkelanjutan karena dari akar mangrove, ada kepiting yang makan dan beranak di situ. Mangrove juga bisa dijadikan lokasi wisata, kami berharap para wisatawan juga nantinya bisa membeli oleh-oleh kepiting bakau, jadi mereka gak perlu lagi menggali batu karena sudah ada sumber penghasilan tambahan,” ungkap Sikirit.

Adanya sumber penghasilan tambahan ini, menurut Ayu Dwi Utari, Sekretaris BRGM merupakan tujuan jangka panjang program rehabilitasi mangrove.

Pasalnya, pulihnya ekosistem mangrove bisa memberikan manfaat yang luar biasa bagi kehidupan, seperti melindungi pantai dari abrasi, menghambat intrusi air laut, meningkatkan produksi hasil laut, serta dapat menjadi destinasi ekowisata.

Ayu berharap, bibit mangrove yang telah ditanam ini dapat dijaga masyarakat dan tumbuh 100%.

“Jadi nanti jangan gali batu lagi yah, percayalah jika mangrove ini bisa dijaga, nanti biota laut akan lebih banyak dan bisa meningkatkan pendapatan warga” sambungnya.

Selain itu, program rehabilitasi mangrove ini merupakan bagian dari upaya pemerintah Indonesia untuk mitigasi perubahan iklim global.

“Seperti yang disampaikan Presiden, rehabilitasi mangrove untuk mengantisipasi perubahan iklim yang sedang terjadi di dunia,” jelas Ayu.

(*)

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel