Tak Lagi Minder, Begini 5 Cara Mengatasi Bau Vagina yang Tak Sedap

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Vagina memang memiliki aroma yang khas. Aroma vagina akan berbeda selama siklus menstruasi, kehamilan, atau menopos. Selain itu, aroma vagina akan lebih kuat setelah Anda berhubungan seksual atau berolahraga.

Tak sedikit wanita yang merasa minder dan tak percaya diri akibat bau vagina. Padahal, bau vagina yang normal tak perlu dikhawatirkan karena akan hilang dengan sendirinya.

Namun, saat vagina memiliki bau yang kuat dan tidak sedap, dan terus berlanjut selama berhari-hari, itu bisa menjadi pertanda adanya masalah kesehatan. Biasanya, penyebab umum dari bau vagina yang tidak normal adalah karena bakteri vaginosis, trikomoniasi dan kebersihan yang buruk.

Untuk menghindari bau vagina tersebut, Anda perlu menjaga kebersihan dan melakukan beberapa tips berikut ini.

1. Cuci secara teratur

Ilustrasi Cuci Tangan | unsplash.com
Ilustrasi Cuci Tangan | unsplash.com

Membersihkan area intim secara rutin memang penting, namun jangan berlebihan. Secara alami, vagina sangat asam dan dapat membunuh bakteri jahat. Anda hanya membutuhkan air hangat untuk membersihkannya.

Faktanya, menggunakan sabun atau produk pembersih khusus justru dapat memperburuk keadaan hingga menyebabkan pertumbuhan bakteri.

Sebaiknya, hindari sabun dan deodoran yang mengandung pewangi (fragrance). Untuk mencuci bagian lipatan luar vagina, gunakan sabun lembut yang memiliki pH rendah.

2. Gunakan celana dalam katun yang longgar

ilustrasi kesehatan vagina/copyright Shutterstock
ilustrasi kesehatan vagina/copyright Shutterstock

Bahan katun bersifat elastis dan mampu menyerap keringat dengan baik. Sifat bahan katun ini dapat membantu vagina untuk mendapat sirkulasi udara dan mencegah terkuncinya area vagina yang bisa menimbulkan bau tak sedap.

Sebuah penelitian berjudul Genital hygiene behaviors and practice: A cross-sectional descriptive study among antenatal care attendees, mengatakan bahwa wanita yang mengenakan pakaian berbahan katun memiliki tingkat bacterial vaginosis lebih rendah daripada mereka yang menggunakan pakaian dalam yang terbuat dari bahan sintetis dan ketat.

3. Merawat vagina setelah berhubungan seks

Ilustrasi/copyright shutterstock.com
Ilustrasi/copyright shutterstock.com

Beberapa wanita merasakan bau vagina yang kuat setelah melakukan hubungan seksual yang merupakan tanda vagionosis bakterialis.

Terkadang bau vagina juga disebabkan karena air mani yang bercampur dengan cairan vagina. Bahkan beberapa pelumas juga dapat memengaruhi pH vagina yang sehingga menimbulkan bau vagina.

Sebaiknya, gunakan kondom untuk mencegah kontak antara air mani dan cairan vagina, bilas vulva dengan air, dan hindari menggunakan pelumas beraroma.

4. Kurangi gula dan tingkatkan hidrasi

Ilustrasi Mencegah Dehidrasi Credit: pexels.com/Daria
Ilustrasi Mencegah Dehidrasi Credit: pexels.com/Daria

Mengonsumsi makanan manis bisa memicu pertumbuhan jamur berlebih yang dapat memperkuat bau vagina.

Selain itu, tetap terhidrasi dengan baik juga bisa mencegah pertumbuhan bakteri yang berlebihan. Tubuh yang terhidrasi dapat mencegah keringat berlebihan yang berbau sehingga aroma tak sedap dari vagina tak terlalu terasa.

5. Konsumsi probiotik

Ilustrasi Makanan Kaya Probiotik Credit: unsplash.com/Julian
Ilustrasi Makanan Kaya Probiotik Credit: unsplash.com/Julian

Probiotik mendukung bakteri sehat di seluruh tubuh manusia, termasuk di dalam vagina. Probiotik dianggap mampu membantu mencegah beberapa infeksi vagina, terutama infeksi jamur.

Selain itu, probiotik juga dapat membantu mengembalikan pH normal vagina sehingga mengurangi risiko bau vagina yang kuat.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: