Tak Lagi Pakai Dolar AS, Ghana Beli Minyak Pakai Emas

Merdeka.com - Merdeka.com - Krisis ekonomi di Ghana makin parah. Bahkan, pemerintah setempat mempersiapkan kebijakan untuk membeli minyak dengan emas. Langkah tersebut dimaksudkan untuk mengatasi berkurangnya cadangan mata uang asing akibat melemahnya nilai tukar mata uang Ghana, Cedi.

Cadangan devisa Ghana dalam bentuk mata uang asing tercatat hanya USD 6,6 miliar pada akhir September 2022. Ini setara dengan cakupan impor kurang untuk tiga bulan, dan ini juga turun dari sekitar USD 9,7 miliar pada akhir tahun lalu.

"Jika diterapkan sesuai rencana untuk kuartal pertama 2023, kebijakan baru itu akan secara mendasar mengubah neraca pembayaran kami. Dan secara signifikan mengurangi depresiasi mata uang kami yang terus-menerus turun," kata Wakil Presiden Ghana, Mahamudu Bawumia mengutip reuters di Jakarta, Sabtu (26/11).

Dia menjelaskan, penggunaan emas dalam pembelian produk minyak akan mencegah pelemahan nilai tukar dan berdampak langsung pada harga bahan bakar. Dengan ini, penjual domestik tidak lagi membutuhkan valuta asing untuk mengimpor produk minyak.

"Barter emas untuk minyak merupakan perubahan struktural yang besar," tambahnya.

Bergantung Minyak Impor

Bamuwia mengungkapkan, kebijakan yang diusulkan ini memang tidak biasa. Namun, karena kondisi Ghana yang hanya memproduksi minyak mentah sejak satu-satunya kilangnya ditutup akibat ledakan pada 2017, telah membuat Ghana harus bergantung pada impor produk minyak sulingan hingga saat ini.

Ini juga merupakan langkah lebih lanjut dari pemerintah setelah Menteri Keuangan, Ken Ofori-Atta mengumumkan langkah-langkah untuk memotong pengeluaran. Serta meningkatkan pendapatan dalam upaya mengatasi krisis utang yang meningkat.

Sebelumnya, Ofori-Atta memperingatkan negara Afrika Barat berisiko tinggi mengalami tekanan utang dan depresiasi serius sehingga mempengaruhi kemampuan Ghana untuk mengelola utangnya.

Pemerintah Ghana juga sedang merundingkan paket bantuan kepada International Monetary Fund (IMF), karena negara penghasil kakao, emas, dan minyak tersebut sedang menghadapi krisis ekonomi terburuk dalam satu generasi.

Reporter Magang: Hana Tiara Hanifah

[idr]