Tak Larang Jadi Mujahid, Bukan Jadi Teroris

TRIBUNNEWS.COM, LAMONGAN -- Yusuf Anis yang akrab disapa Haris, alumnus Perang Afghanistan mengakui gencarnya tayangan televisi tentang bom, makin menguatkan stigma masyarakat bahwa semua mujahid adalah teroris. Yusuf menyebut sejumlah orang kerap menuding dirinya terlibat aksi bom di Tanah Air.

”Saya hanya bisa katakan, saya bukan teroris. Saya pejuang yang membela kaum muslim,” tegas warga Kota Lamongan tersebut.

Kepada anak-anaknya yang beranjak dewasa, Yusuf tidak pernah menyembunyikan aktivitasnya di masa lalu. Dia menceritakan semua kegiatan jihadnya selama lima tahun di Afghanistan (1988-1993). Yusuf juga sering mengajak anak pertamanya yang berusia 17 tahun untuk menyaksikan liputan tentang serangan bom di televisi, sembari memberikan pemahaman tentang jihad yang sesungguhnya.

”Saya katakan, Abi (ayah) bukan seperti ikhwan (teman) muda-muda yang mengebom itu. Abi bukan teroris yang membunuh orang tidak berdosa atau merusak tempat ibadah. Abi adalah pejuang pembela kaum yang lemah,” ujarnya kepada sang anak.

Yusuf mengungkapkan dirinya dan keluarga kini sangat terbuka dengan lingkungan luar. Dia bahkan menyekolahkan anak-anaknya di sekolah negeri milik pemerintah. Bagi pemilik nama jihad Abu Musa itu, tidak ada masalah jika anak-anaknya bergaul dengan siapapun di lingkungan sosialnya.

”Saya tidak ingin mereka eksklusif. Tapi untuk urusan agama, saya memang ketat. Waktunya bermain ya bermain tapi waktunya mengaji harus mengaji,” jelas pria 50 tahun yang juga pernah bertempur di Mindanao, Filipina.

Yusuf tidak akan melarang jika sang anak kelak menjadi mujahid, tetapi bukan teroris. ”Sekali lagi mujahid, bukan pelaku teror. Karena niat dan tujuan keduanya berbeda. Pejuang berbeda dengan teroris seperti yang ada sekarang ini,” pungkasnya.(idl/ab)

Baca Juga:

  • Polisi Endus Satu Terduga Teroris Poso Asal Kolaka Utara
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.