Tak Mampu Belikan Smartphone untuk Anak, Ayah Nekat Bunuh Diri

Adinda Permatasari
·Bacaan 2 menit

VIVA – Seorang pria berusia 50 tahun dari sebuah desa di Distrik Sepahijala di Tripura, India, diduga bunuh diri usai bertengkar dengan putrinya. Alasannya, karena dia salah membelikan ponsel untuk anaknya itu.

Dalam sebuah laporan yang ditulis oleh Priyanka Deb Barman untuk Hindustan Times, putri pria itu, seorang pelajar kelas 10, meminta ayahnya untuk membelikannya smartphone agar bisa ikut kelas online. Tapi, ayahnya yang seorang petani hanya mampu membelikannya ponsel biasa yang tidak disukai anaknya.

Dikutip dari laman World of Buzz, putrinya lalu membanting ponsel itu setelah pertengkaran terjadi antara keduanya. Pria itu kemudian terakhir terlihat masuk ke kamarnya di mana dia ditemukan tewas keesokan harinya (1 Juli).

Insiden itu dilaporkan ke polisi yang memulai investigasi mereka dengan penyebab kematian. Setelah mengumpulkan post mortem, kasus tersebut diputuskan sebagai kematian yang tidak alami.

"Kami mengumpulkan beberapa warga dan keluarganya mengenai masalah ini. Selama investasi kami, kami mengetahui kalau ada pertengkaran di rumahnya akibat kegagalannya membelikan smartphone untuk anaknya," kata seorang petugas yang bertanggung jawab atas kantor polisi Madhupur, Tapas Das.

Petugas itu menambahkan, "Kami melakukan post mortem dan menyerahkan jenazah kepada mereka. Kami menangani kasus kematian tidak alami."

Ini bukan yang pertama seseorang mengkhiri hidupnya karena kesulitan mengikuti kelas online di tengah pandemi. Karena semakin banyak sekolah dan universitas memaksa untuk memindahkan kelas secara online, banyak siswa yang tinggal di wilayah pedesaan kesulitan mengikuti perubahan ini.

Awal Juni, salah satu siswa di Kerala, India, bunuh diri setelah tidak bisa menghadiri kelas kelas karena dia tidak punya televisi atau smartphone. Memiliki keluarga yang miskin, dia khawatir pelajarannya akan terganggu dan melarikan diri dari rumah.

Sementara itu, banyak siswa lainnya yang harus melakukan usaha ekstrem demi menghadiri kelas online atau duduk ikut ujian. Seperti siswa di Sabahan yang menghabiskan waktu 24 jam di atas pohon hanya untuk mendapat koneksi internet yang bagus demi mengikuti ujian.