Tak Mampu Bersaing Harga, Jeruk Lokal Membusuk Lawan Jeruk Impor

Fikri Halim, Adi Suparman (Bandung)
·Bacaan 2 menit

VIVADPR RI mengecam dominasi komoditas jeruk impor yang berdampak pada anjloknya harga jeruk lokal. Komisi IV DPR RI mengultimatum Kementerian Pertanian akibat kondisi tersebut yang mengakibatkan produktivitas jeruk lokal di Kabupaten Bandung Barat membusuk.

Anggota Komisi IV DPR RI, Ono Surono menjelaskan, membusuknya jeruk lokal di Kabupaten Bandung Barat ini terjadi karena serbuan jeruk impor yang mendominasi pasar.

"Akibatnya harga terpengaruh mekanisme pasar. Suplai melimpah, harga tergerus turun. Hal ini tentu menjadi perhatian dan harus diberikan solusi bagi petani jeruk," ujar Surono dalam keterangan persnya, Senin 12 April 2021.

Ono mendesak Kementerian Pertanian mengembangkan komoditas jeruk lokal untuk mampu bersaing dengan produk impor agar meningkatkan derajat petani lokal.

“Ditjen Holtikultura harus lebih fokus mengembangkan keberadaan buah - buahan lokal. Sekarang buah impor sudah sangat dominan, sehingga agak sulit kita temukan buah - buah lokal di tempat-tempat penjualan buah,” tegasnya.

Ono menilai, perlu ada regulasi kuat yang menaungi petani lokal untuk melindungi sekaligus memberi stimulus dalam persaingan level ekspor. "Harus ada pengaturan yang tepat agar petani lokal dapat tetap bersaing di pasar Nasional, bahkan bisa melakukan ekspor ke negara lain. Perlindungan kepada petani buah lokal harus dilakukan”,

"Saya menyerukan agar PDI Perjuangan khususnya di KBB agar mendampingi petani. Jangan sampai biaya menanam atau perawatan lebih besar dari pada pendapatan, karena harga buah jeruk yang rendah," tambahnya.

Diberitakan sebelumnya, seorang petani jeruk california di Kampung Baru Nagri, Desa Sukajaya, Kecamatan Lembang, Bandung Barat, Amang menuturkan, telah memiliki kebun jeruk dengan luas 2,5 hektare. Amang mengaku mampu memanen jeruk 4 ton per bulan.

Biasanya, ia menjual jeruknya ke perusahaan minuman kemasan. Per kilogram-nya Rp35 ribu. Namun kali ini, harga jeruk anjlok akibat dominasi jeruk impor hingga Rp7 ribu per kilogram. Selain harganya anjlok, jeruk yang dipanennya pun tidak ada yang membeli. Akibatnya, Amang pun merugi. Biasanya, Amang bisa meraih pendapatan Rp24 juta dari 4 ton jeruk dengan harga terendah, yakni Rp7.000 per kilogram.

Lantaran kondisi itu, dirinya enggan memanen buah tersebut, dan membiarkannya berserakan di bawah pohonnya. Karena tidak dipanen, jeruk makin menguning kemudian jatuh, dan akhirnya membusuk.

“Kalau dipanen juga rugi. Hal ini juga dialami beberapa petani jeruk yang ada di sini,” ungkapnya.