Tak Mau Dapat Dobel, Buruh Tani di Klaten Kembalikan Bansos

·Bacaan 2 menit

VIVA - Sikap jujur dan nrimo yang diterapkan Tukul Subagiyono, buruh tani asal Klaten, Jawa Tengah, patut menjadi contoh teladan. Bagaimana tidak, di saat banyak orang diam-diam mendapat bantuan sosial (bansos) meski tergolong mampu, atau ada juga yang nekat menerima bansos dobel, justru Tukul yang hanya buruh tani mengembalikan bantuan sosial tunai (BST) yang diberikan kepadanya.

Alasannya karena ia sudah mendapat bantuan lain dari dana desa. Ia tak ingin dapat bantuan dobel karena ada warga lain yang juga berhak mendapatkan.

Warga Desa Kotesan Kecamatan Prambanan Klaten tersebut datang langsung ke tempat pembagian BST di desanya.

Kebetulan, saat itu ada Gubernur Jateng Ganjar Pranowo yang sedang keliling memantau pembagian BST.

"Ini sudah dapat bantuan bapak, ibu?" tanya Ganjar pada warga yang ada di sana.

Baca juga: Kades di Klaten: Mumet, Punya Mobil Lima Dapat Bansos

Saat itu, Tukul langsung tunjuk jari dan tegas mengatakan mau mengembalikan bantuan yang diterimanya.

"Saya cuma buruh tani pak. Ini saya kembalikan, wong saya sudah dapat. Satu bantuan saja sudah cukup pak, masa mau dapat lagi. Ya walaupun saya butuh sebenarnya, tapi kan saya sudah dapat. Yang lain masih banyak yang butuh dan tidak dapat," katanya.

Dan rupanya selain Tukul ada warga lain yabg bersikap sama. Jannah, seorang ibu rumah tangga yang suaminya bekerja sebagai kuli bangunan, juga mengembalikan BST.

"Suami saya sudah dapat bantuan dari dana desa pak, jumlahnya juga sama Rp300 ribu per bulan. Nggak tahu kok ini dapat bantuan lagi, makanya saya kembalikan," kata Jannah.

Begitu juga Yoga Pratama, seorang mahasiswa. Ia mengaku mendapat BST, padahal ayahnya sudah menerima.

"Kan menurut aturan undang-undang, satu kepala keluarga dapat satu bantuan saja. Tapi kok di keluarga saya dapat dua. Makanya saya berinisiatif mengembalikan," katanya.

Ganjar yang melihat langsung kejadian tersebut mengaku salut pada warga yang jujur dan mau mengembalikan yang bukan haknya.

"Ini konkret, mereka datang dengan moralitas bagus, mau mengembalikan karena merasa sudah menerima," katanya.

Ia melihat sendiri beberapa penerima bantuan yang memakai jam tangan bagus, handphone bagus dan sepatu bagus. Ia juga mendapat fakta, ada penerima yang masih bekerja di pabrik dan ada juga yang punya usaha sendiri.

"Jadi ini soal moralitas, ada yang lebih mampu tapi tak berkeinginan mengembalikan. Mohon maaf, dengan segala hormat bapak dan ibu yang hari ini mengembalikan. Meskipun hanya buruh tani, tapi moralitasnya luar biasa. Ini ada juga ibu rumah tangga dan mahasiswa. Dia kritis, karena merasa tidak berhak, ya dikembalikan," katanya.

Sebelumnya, Ganjar menemukan banyak penyaluran BST yang tidak tepat sasaran du beberapa daerah. Seperti orang punya mobil banyak tapi bisa masuk daftar dan menerima bansos, ada juga perangkat desa yang juga terdaftar sebagai penerima BST.

Laporan: Teguh Joko Sutrisno/ tvOne

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel