Tak Mau Menyerah Karena Pandemi, Sektor Wisata Bakal Bangkit

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta Lebih dari 1 tahun pandemi melanda dunia termasuk Indonesia. Pandemi berdampak ke semua sektor, tak hanya ekonomi, pandemi juga menusuk sektor pariwisata. Sontak, ekonomi pariwisata jalan di tempat. Bukan hanya lokasi wisata yang mati suri, warga sekitar yang menggantungkan ekonomi terhadap wisata tak luput harus gigit jari.

Namun, bukan orang Indonesia kalau menyerah. Para pelaku ekonomi pariwisata putar otak agar bisa bertahan selama pandemi. Sinyal kebangkitan ini, terlihat dengan adanya percepatan vaksinasi serta penerapan protokol kesehatan.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, mengatakan vaksinasi dan protokol kesehatan menjadi kunci kebangkitan pariwisata Indonesia.

Hal itu bisa terlihat, para pelaku wisata di seluruh wilayah Indonesia, salah satunya di Desa Wisata Batulayang, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Desa Wisata Batulayang sendiri merupakan salah satu desa wisata yang berhasil masuk 50 besar dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021.

Pada Hari Pariwisata Dunia yang diperingati setiap tanggal 27 September, Euis Rohani, pemilik sebuah homestay di Desa Batulayang, berharap pandemi bisa segera berakhir dan pariwisata bisa bangkit kembali.

“Saya sudah rindu menyambut kedatangan tamu dari daerah lain dan berkomunikasi secara langsung dengan tamu, karena serasa punya saudara baru,” ujar Euis.

Euis Rohani pemilik sebuah homestay di Desa Batulayang, berharap pandemi bisa segera berakhir dan pariwisata bisa bangkit kembali.
Euis Rohani pemilik sebuah homestay di Desa Batulayang, berharap pandemi bisa segera berakhir dan pariwisata bisa bangkit kembali.

Selama ini, Euis terus membangun semangat sembari berdoa semoga pandemi segera berakhir. Di samping itu, Euis dan pelaku wisata lain di Desa Batulayang juga melakukan kegiatan bernama Green Pink (Gerakan emak-emak narsis peduli lingkungan). Kegiatan yang dilakukan meliputi kerja bakti di sekitar lingkungan setiap hari Sabtu serta membuat kerajinan rajutan dan kerajinan daur ulang sampah.

Euis kini telah menyiapkan homestay yang dikelola bersama dengan suaminya untuk kembali menyambut para wisatawan. Berbagai cara dilakukan agar pengunjung tetap aman menginap saat pandemi. “Kami memastikan kebersihan homestay supaya tamu-tamu yang akan menginap merasa nyaman. Selain menerapkan protokol kesehatan, kami juga menyediakan masker dan wajib memakai hand sanitizer sebelum masuk ke dalam homestay,” lanjut Euis yang sudah mengelola homestay sejak 2018.

Sementara itu, Suhaepi, penjual makanan dan minuman di area Desa Wisata Batulayang, tak kalah semangat menyambut wisatawan di masa pandemi.

“Saya membuat menu jajanan yang menarik dan kekinian, membuat daftar menu yang menarik,” ungkapnya.

Suhaepi yang baru membuka usaha di pertengahan 2019 langsung dihadapkan dengan pandemi Covid-19 pada awal 2020. Di tengah kondisi ini, Suhaepi terus semangat, menyusun siasat agar pembeli tetap mendekat. “Sekarang jualannya juga lewat status di WhatsApp dan melayani pesan antar,” imbuhnya.

Suhaepi penjual makanan dan minuman di area Desa Wisata Batulayang.
Suhaepi penjual makanan dan minuman di area Desa Wisata Batulayang.

Dengan kegigihan Suhaepi berhasil menarik kembali pembeli. Kini, sudah mulai banyak pembeli datang, terutama pada akhir pekan. Dalam kondisi pandemi, pembeli tidak diperkenankan makan di tempat. Semua makanan dan minuman yang dibeli harus dibungkus dan dibawa pulang.

Dengan terus menerapkan protokol kesehatan, Suhaepi sudah tak sabar menantikan kondisi Desa Wisata Batulayang yang kembali normal dan siap menyambut banyak wisatawan dengan berbagai kreasi makanan dan minumannya.

Beralih ke online

Strategi penjualan di tengah pandemi juga diterapkan oleh Neneng Rita, produsen dan penjual oleh-oleh di Desa Batulayang. Neneng yang memulai usaha sejak 2017 ini menjual berbagai produk cenderamata khas Batulayang seperti tas rajutan, tas hasil kreasi daur ulang sampah, cangkir, teko, hingga berbagai jenis hiasan bunga untuk pajangan. Selain dijual secara langsung, Neneng juga membuat toko online di sebuah marketplace.

Neneng Rita, produsen dan penjual oleh-oleh di Desa Batulayang.
Neneng Rita, produsen dan penjual oleh-oleh di Desa Batulayang.

Di tengah situasi pandemi, Neneng terpaksa harus meminimalisir biaya hidup sehari-hari. “Saya berharap agar sektor ekonomi kreatif bisa semakin maju agar para pelakunya makin sejahtera dan dunia pariwisata segera bangkit kembali sehingga Desa Wisata Batulayang bisa makin dikenal lagi,” pungkasnya.

Sebagai wisatawan, mari kita dukung pemulihan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif dengan memilih destinasi wisata #DiIndonesiaAja serta mendorong Gerakan Nasional #BanggaBuatanIndonesia dan #BeliKreatifLokal supaya roda perekonomian masyarakat khususnya para pelaku wisata kembali berputar.

Informasi seputar pariwisata dan ekonomi kreatif lainnya bisa Anda dapatkan dengan cara mengikuti akun Instagram: @pesonaid_travel, Facebook: @pesonaid_travel, dan selalu kunjungi website www.indonesia.travel.

Jangan lupa tetap patuhi protokol kesehatan dengan menerapkan 6M, mulai dari menggunakan masker dengan benar, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak, menghindari kerumunan, membatasi mobilitas, dan menghindari makan bersama agar aktivitas berwisata tetap aman dan nyaman.

Bagi kamu yang saat ini masih #DiRumahAja, sambil menyusun bucket list liburan, kamu juga bisa ikutan PUKIS atau Pesona Punya Kuis setiap hari Selasa di setiap pekannya. Caranya? Pasti gampang dong! Follow akun Instagram @pesonaid_travel, lalu like postingan terbaru PUKIS pada feed. Jawab pertanyaan di kolom komentar, ya! Agar kesempatan menang semakin besar, mention juga 3 temanmu untuk ikutan kuis ini. Raih beragam hadiah menarik dari Pesona Indonesia.

Ayok Ikutan!

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel