Tak Mudah, Begini Sulitnya Tim DVI Identifikasi Korban Kecelakaan Sriwijaya Air

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Laboratorium DNA Pusdokkes Polri Kombes dr Ratna mengatakan, proses identifikasi korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182 dengan sampel deoxyribonucleic acid (DNA) dari keluarga membutuhkan waktu.

Dia mengatakan, tidak semua bagian tubuh yang ditemukan bisa dijadikan sampel untuk identifikasi. Jika sudah mengalami degradasi, body part tersebut tidak dapat dijadikan sampel.

"Kita cari yang tidak terkontaminasi," kata Ratna saat jumpa pers di RS Polri Jakarta Timur, Rabu (13/1/2021).

"Jadi harus kita pilih, memungkinkan atau tidak diuji, kadang hanya lapisan kulit, itu masih bisa," ungkap dia

Oleh karena itu, Ratna menyatakan, identifikasi sangat bergantung dengan bagian tubuh yang ditemukan hingga menjadi sampel uji postmortem dengan keakuarasian yang sama.

"Asal kita bisa ambil yang memungkinkan sesuai, maka memungkinkan untuk munculnya DNA (korban)," tandas dia.

Sementara itu, Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Rusdi Hartono menyatakan, sampel DNA antemortem dari keluarga korban Sriwijaya Air SJ 182 hampir lengkap. Dari total manifes 62 orang, tercatat tinggal 9 sampel DNA keluarga yang belum diserahkan sebagai data ante mortem.

"Jadi belum semua, masih kurang 9 keluarga yang belum menyampaikan sampel DNA," kata Rusdi dalam jumpa pers di RS Polri, Jakarta Timur, Rabu (13/1/2021).

Data teranyar terkait DNA hari ini, hingga pukul 09.00 WIB hari ini, telah diterima 112 sampel DNA .

Polri juga menyatakan, hingga pukul 09.00 WIB, terkumpul 137 kantong jenazah dan 35 kantong properti dari insiden jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182.

Asa Keluarga Korban Sriwijaya Air SJ 182

Sejumlah informasi terpasang pada pintu kaca di Posko Ante Mortem-DVI RS Polri Jakarta, Selasa (12/1/2021). Hingga saat ini, tim DVI masi mengumpulkan sampel DNA penumpang pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang jatuh di perairan Kepualauan Seribu. (merdeka.com/Imam Buhori)
Sejumlah informasi terpasang pada pintu kaca di Posko Ante Mortem-DVI RS Polri Jakarta, Selasa (12/1/2021). Hingga saat ini, tim DVI masi mengumpulkan sampel DNA penumpang pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang jatuh di perairan Kepualauan Seribu. (merdeka.com/Imam Buhori)

Supeno Hendi Kuswanto, ayahanda dari Okky, mendatangi RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Rabu (13/1/2021). Okky merupakan salah satu dari penumpang pesawat Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ 182 yang jatuh di sekitar Kepulauan Seribu, Sabtu 9 Januari lalu.

Supeno mengaku kedatangannya guna memastikan apakah Tim SAR kembali menemukan bagian lain tubuh sang anak dari temuan kantong jenazah yang terus bertambah.

"Mudah-mudahan anak saya untuh jasadnya. Saya kasih waktu dua hari (sejak teridentifikasi). Jadi barangkali ada tambahan hari ini," ujar Supeno di lokasi identifikasi korban kecelakaan Sriwijaya Air.

Dia berencana membawa bagian tubuh anaknya besok, Kamis, 14 Januari. Untuk itu, Supeno mengaku ingin mengonfirmasi kepada otortitas RS Polri terkait nasib terakhir bagian tubuh lain dari anaknya yang mungkin bisa kembali ditemukan.

"Besok rencana bawa pulang, ini mau konfirmasi dulu," jelasnya.

Supeno mengakui bahwa tujuan anaknya ikut dalam penerbangan SJ 182 adalah sebagai pramugara. Dia menambahkan, almarhum Okky sudah bekerja di maskapai Sriwijaya Air selama 6 tahun.

Sebelumnya, Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri telah mengungkap satu identitas korban kecelakaan pesawat Sriwijaya Air bernomor penerbangan SJ-182.

Adapun nama korban ialah Okky Bisma seorang warga Kramat Jati, Jakarta Timur, DKI Jakarta.

Okky merupakan korban pertama yang berhasil diidentifikasi. Mengacu pada manifes, Okky merupakan pria kelahiran Jakarta 1991. Data-data tersebut dikatakan cocok dengan yang terdapat dalam data E-KTP milik Dukcapil.

Saksikan video pilihan di bawah ini: