Tak Peka soal Depresi seperti Luna Maya dan Deddy Corbuzier Termasuk Kekerasan Verbal

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Mantan pesulap, Deddy Corbuzier dan artis, Luna Maya, baru-baru ini menjadi buah bibir akibat perkataan mereka yang dinilai tidak peka terhadap kontestan ajang pencarian model, Ilene, yang mengalami depresi dan eating disorder.

Ilene kemudian menceritakan pengalamannya tentang depresi dan eating disorder yang sempat dia rasakan. Ilene sempat merasakan tekanan karena badannya gemuk dan ketika terjun ke dunia model pada 2015, dia dituntut untuk memiliki tubuh langsing.

Gara-gara eating disorder, Ilene sewaktu-waktu bisa makan banyak, kemudian tidak ingin makan sama sekali. Hingga ada pikiran ingin mengakhiri hidup.

Namun, respons Deddy Corbuzier malah menganggap itu adalah tuntutan pekerjaan sebagai model. Dalam situasi tersebut, Luna Maya juga melayangkan perkataan bernada candaan.

Menanggapi hal ini, psikolog dari Universitas Indonesia (UI), Oktina Burlianti, berpendapat bahwa hal tersebut sangat tidak empati.

“Aku tuh sedih banget ketika modelnya bilang, ‘mungkin akunya aja yang enggak kuat’ kan akhirnya semakin membuat konsep diri yang negatif,” ujar Oktina kepada Health Liputan6.com melalui sambungan telepon, Selasa (23/3/2021).

Menurut psikolog yang akrab disapa Ullie, ketika menghadapi orang dengan masalah serupa, sebetulnya cara terbaik yang dapat dilakukan oleh orang awam adalah menawarkan bantuan.

“Hal terbaik yang dapat kita lakukan adalah berempati. Caranya, pertama terima (cerita pasien), kemudian ngomong ‘apa yang bisa saya lakukan untuk membuatmu merasa lebih baik’” kata Ullie.

Termasuk Kekerasan Verbal

Menurut Ullie, perkataan tidak baik yang ditujukan kepada seseorang yang mengalami depresi atau sedang dalam masa sulit adalah salah satu bentuk kekerasan verbal.

Dia memberi contoh pada kasus lain yang hampir serupa. Misal, dalam upacara pemakaman seseorang bilang 'Jangan menangis kamu harus kuat' kepada keluarga yang baru ditinggalkan.

“Ketika kita sedih, emosi kita akan memicu reaksi fisik dan psikologis. Kalau orang sedang kehilangan terus kita bilang enggak boleh nangis, itu sama saja seperti kita lagi makan, tapi enggak boleh buka mulut,” ujarnya.

Terkait eating disorder yang dialami Ilene, Ullie menerangkan bahwa gangguan tersebut berawal dari kecemasan. Faktor risikonya pun bermacam-macam, bisa faktor genetik, lingkungan, dan perilaku yang dipelajari. Ada pula faktor gangguan kepribadian dan berbagai faktor lainnya.

“Tapi dia (Ilene) kan bilang bahwa dia sempat makan berlebihan dan sempat juga tidak mau makan sama sekali. Itu gejala yang berbeda, kalau kayak gitu bisa juga gangguan stres atau depresi,” katanya.

Ullie menegaskan, depresi adalah penyakit mental yang ada obat dan pengobatannya.

“Jadi kalau ada anggapan orang depresi itu karena lemah atau lemah iman ya itu salah. Seperti diabetes dan penyakit lainnya, enggak ada orang yang mau depresi,” Ullie menekankan.

Infografis 4 Tips Jaga Kesehatan Mental Saat Pandemi COVID-19

Infografis 4 Tips Jaga Kesehatan Mental Saat Pandemi Covid-19. (Liputan6.com/Trieyasni)
Infografis 4 Tips Jaga Kesehatan Mental Saat Pandemi Covid-19. (Liputan6.com/Trieyasni)

Simak Video Berikut Ini