Tak Pernah Rasakan Bahagia Sejak Lahir, Aku Masih Berharap Ada Cinta di Sisa Usia

·Bacaan 6 menit

Fimela.com, Jakarta Kita semua pernah punya pengalaman atau kisah tentang cinta. Kita pun bisa memaknai arti cinta berdasarkan semua cerita yang pernah kita miliki sendiri. Ada tawa, air mata, kebahagiaan, kesedihan, dan berbagai suka duka yang mewarnai cinta. Kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories Februari 2021: Seribu Kali Cinta ini menghadirkan sesuatu yang baru tentang cinta. Semoga ada inspirasi atau pelajaran berharga yang bisa dipetik dari tulisan ini.

***

Oleh: Puji Khristiana Dyah Nugrahaini

Terlalu berlebihan memang, jika mengatakan aku tidak pernah merasa bahagia sejak lahir. Tapi itulah yang terjadi padaku sebenanrnya. Aku lahir dari seorang ibu yang mengalami gangguan mental sejak beliau mengandungku. Ibu mengalami gangguan mental karena suami yang baru menikahinya pergi begitu saja ketika beliau hamil usia 8 bulan. Dari cerita budhe, bapak meninggalkan ibu karena merasa kecewa. Apa yang diharapkan dari pernikahan ini tak kunjung dia dapatkan.

Ibuku memang menderita tuna rungu semenjak lahir. Tapi beliau memiliki kelebihan. Ibu adalah anak dari juragan tanah yang kaya. Bapak bersedia menikahi ibu dengan harapan akan mendapat warisan dari mertuanya. Namun setelah setahun menikah, kakek dan nenek tak kunjung juga memberi warisan barang sepetak tanah sekalipun. Bapak kecewa berat. Hingga akhirnya meninggalkan ibu begitu saja yang sedang menanti masa-masa melahirkan. Sejak saat itulah mental ibu sering bermasalah.

Aku dilahirkan dan dibesarkan seorang ibu dengan mental yang tertekan. Alhasil, aku sering mendapat kekesaran fisik dan batin dari ibuku sendiri. Tak terhitung berapa kali ibu marah-marah tidak jelas hingga berakhir pada pukulan di beberapa bagian tubuhku. Setiap ibu marah, hanya cacian dan makian yang keluar dari mulutnya. Bilang aku anak durhaka, anak tidak tau diuntung, pembawa sial, hanya menjadi beban saja, dan sederet kalimat makian yang selalu meninggalkan luka batin.

Beberapa kali saudara-saudara ibu memintaku untuk tinggal bersamanya. Tapi aku selalu menolak. Meski tak terhitung berapa kali ibu melukai fisik dan batin, aku tetap menyayanginya. Aku tetap ingin tinggal bersamanya. Mengabaikan kekhawatiran saudara tentang perkembangan fisik dan mentalku. Aku selalu mengatakan pada mereka bahwa aku akan baik-baik saja tinggal bersama ibu.

Banyak yang menghina dan mengatakan bahwa ibu stress, gila, kesurupan, dan lain sebagainya. Tapi itu tak mengurangi rasa cintaku sedikitpun padanya. Dengan telaten aku bersama budhe mengantar ibu berobat ke rumah sakit. Berharap mental ibu bisa kembali menjalani hidup dengan normal.

Perlahan harta peninggalan kakek dan nenek mulai habis untuk pengobatan ibu. Tapi tak ada kemajuan sedikitpun pada kesehatan mentalnya. Tiap hari beliau masih teriak-teriak. Terlebih lagi semakin dewasa wajahku semakin mirip dengan bapak. Kenangan pahit masa lalu tentang bapak selalu hadir setiap kali menatapku. Inilah yang mungkin membuat kesehatan mentalnya tak kunjung sembuh.

Ibu tak bekerja, harta nyaris tak ada. Meski ingin sekali melanjutkan kuliah, aku terpaksa memendam keinginan itu. Selepas SMA aku bekerja serabutan demi bisa menyambung hidup. Kadang menjadi penjaga toko, kadang menjual ikan, menjadi asisten rumah tangga panggilan, atau kerja apapun yang penting halal. Ada uang uang makan dan berobat ibu.

Nyaris putus asa dengan kehidupan yang kujalani, aku berdoa agar dipertemukan dengan jodoh. Aku pikir menikah adalah solusi terbaik untuk keluar dari masalah ini. Minimal ada yang membantu mencari uang untuk kehidupan kami. Ternyata doaku didengarkan Tuhan. Tepat di umur 20 tahun, ada seorang laki-laki yang berprofesi sebagai driver ojek online datang melamar dan mengajakku menikah.

Aku menerima lamarannya dan menikah di usia yang masih cukup muda. Syukurlah Bapak mau datang sebagai wali. Di momen pernikahan inilah aku akhirnya tahu bahwa bapak telah menikah 4 kali dengan wanita yang berbeda setelah bercerai dengan ibu. Kabar ini membuatku sedikit bersykur. Jikalaupun toh bapak tetap hidup bersama ibu, kehidupan kami tidak akan pernah jauh berbeda dari yang selama ini kami jalani.

Bertahan dan Berjuang dalam Hidup

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/fizkes
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/fizkes

Apakah benar setelah menikah kehidupanku lebih baik? Ternyata jauh api dari panggang. Jauh kenyataan dari keinginan. Menikah tak sedikit pun menjadi jalan keluar. Tapi justru menyeretku pada masalah yang lebih rumit. Aku tinggal bersama suami dan mertua. Ibu kutitipkan di rumah budhe. Hanya budhe satu-satunya kakak ibu yang sering membantu kami selama ini. Jadi aku bisa tenang menitipkan ibu di tangan orang yang tepat.

Sebelum memutuskan menikah, aku memang belum mengenal betul calon suamiku. Kami hanya diperkenalkan dan dipertemukan oleh seorang teman. Hanya dua bulan kenalan, dia langsung datang, melamar, dan mengajakku menikah. Awalnya aku mengira dia orang baik yang bisa membahagiakan aku. Menjadi pelindung pertama ketika ada yang mengakiti fisik maupun batinku.

Ternyata aku salah. Semua sifat aslinya nampak setelah menikah. Dia sangat pelit untuk urusan nafkah. Tak jarang aku sering merasa lapar karena tak pernah diberi uang belanja. Aku berusaha mencari uang dengan berjualan online kecil-kecilan yang hasilnya tidak seberapa. Tak masalah. Yang penting aku bisa makan.

Mertuaku juga tak jauh beda. Ternyata tinggal bersamanya tidak gratis. Biaya air dan listrik selalu diungkit-ungkit. Sedikit saja dia tahu kalau aku punya uang, akan langsung diminta dengan alasan untuk uang listrik dan air. Tak hanya uang listrik dan air saja yang diungkit. Bahkan dia juga sering mengungkit-ungkit dan mengatakan bahwa ibuku gila. Anak mana yang tahan mendengar ibunya dihina oleh mertuanya sendiri.

Benar-benar merasa tidak tahan. Akhirnya aku putuskan untuk bekerja di sebuah rumah makan ketika aku sedang hamil 3 bulan. Tak kuhiraukan bagaimana rasanya tubuh lemah karena hamil muda. Aku terus bekerja demi buah hati yang ada di dalam kandungan. Beruntung aku memiliki bos yang baik. Aku bisa mandi dan makan di tempatku bekerja. Jadi aku tidak perlu mengeluarkan uang untuk membayar uang listrik dan air di rumah mertua.

Jangan tanya apakah suamiku mau mengeluarkan uang untuk periksa kandunganku atau tidak. Untuk makanku saja dia tidak peduli. Untuk segala keperluan kandungan dan persalinan aku mengusahakannya sendiri. Menabung sedikit demi sedikit untuk membeli perlengkapan bayi. Sisanya kugunakan untuk biaya berobat ibu. Ternyata meski sudah menikah ternyata aku masih tetap berjuang untuk bisa hidup kenyang dan layak.

Banyak yang prihatin melihat kehidupanku. Bahkan ada beberapa di antara mereka yang memberi saran untuk bercerai saja. Memang lelah. Kadang juga ada fikiran untuk menyerah. Tapi ternyata bertahan adalah jalan satu-satunya agar aku dan bayi di dalam kandungan ink bisa tetap bernafas. Jika masih bertahan, aku tidak akan meminta cerai. Aku tidak ingin anak kami kelak menjalani hidup sepertiku. Hanya berdua saja dengan seorang ibu tanpa kehadiran dan kasih sayang seorang ayah.

Dua puluh tahun lebih aku berjuang untuk tetap bisa hidup. Aku sudah terbiasa menjalani kehidupan yang sulit. Jadi, sesulit apa pun perjalanan hidupku nanti, aku memutuskan menjalaninya dengan gagah. Aku ingin menunjukkan pada bapak, ibu dan juga dunia. Anak yang mereka lahirkan adalah anak yang tegar dan kuat. Sebesar apapun badai kehidupan yang datang, aku akan tetap bertahan dengan bahu, kaki, dan batin yang kokoh. Karena aku yakin, seribu kali cinta akan kudapatkan setelah seribu kali kesulitan berhasil kutaklukkan.

Sekarang, usia kehamilanku mencapai 8 bulan. Sebulan lagi aku akan melahirkan bayi laki-laki yang hebat. Aku berjanji akan menjaga dan melindunginya nya dengan sebaik mungkin. Menyiraminya dengan segala cinta dan kasih sayang. Berharap kelak dia akan menjadi laki-laki hebat yang tidak kalah dengan segala cobaan kehidupan. Permata hati yang akan memberiku seribu cinta di sisa usia.

#ElevateWomen