Tak Punya Masjid, Warga Muslim Komplek Taman Villa Meruya Bikin Tenda

Hardani Triyoga, Andrew Tito
·Bacaan 2 menit

VIVA – Warga muslim di Komplek Taman Villa Meruya, Meruya Ilir, Jakarta Barat hingga sekarang belum memiliki masjid untuk beribadah. Kondisi tersebut, membuat warga terpaksa membuat tenda sebagai tempat ibadah di bulan Ramadhan tahun ini.

Tenda seluas 100 meter persegi itu tersebut berwarna putih itu diberi nama Tenda Masjid At-Tabayyun. Tenda itu didirikan sebagai pengganti sementara bangunan masjid yang belum terealisasi. Lokasi tenda ini persis berada di tanah lokasi rencana pembangunan Mesjid At-Tabayyun.

Alasan mendirikan tenda oleh panitia pembangunan Masjid At- Tabayyun untuk memenuhi aspirasi warga Muslim yang minoritas di Taman Villa Meruya. Tenda ini dipakai untuk ibadah salat Tarawih selama Ramadhan 1442 H di perumahan tersebut.

Untuk diketahui, Taman Villa Meruya merupakan perumahan yang dihuni warga mayoritas non muslim. Pembangunan masjid belum terwujud karena tak diberikan izin.

Menurut panitia pembangunan Masjid At-Tabayyun, tenda didirikan satu hari jelang Ramadhan. Dengan cara ini, diharapkan warga muslim bisa salat jemaah selama Ramadhan.

"Tenda selesai dibangun Senin 12 April 2021. Malanya bisa digunakan warga untuk tarawih," ujar Ketua Panitia, H Marah Sakti Siregar, Jumat, 23 April 2021.

Ada cerita mengharukan saat salat tarawih pertama di tenda tersebut. Momen haru saat kumandangkan adzan dilantukan Pandi yang merupakan anggota sekuriti Taman Villa Meruya.

Pandi adalah salah seorang dari 50 petugas sekuriti yang semuanya muslim. Sedikitnya ada 300 warga muslim plus 500 asisten rumah tangga (ART) memang sudah lama mendambakan sarana ibadah di tempat tinggalnya.

"Momen haru itu karena untuk pertama kalinya ada tempat salat berjamaah bagi warga Muslim di Taman Villa Meruya selama lebih 25 tahun.

Suasana salat di dalam tenda tersebut seperti di dalam tenda Padang Arafah, Saudi Arabia, yang biasa digunakan jamaah haji menginap saat berwukuf.

Daya tampung tenda itu untuk 100 jamaah. Namun, untuk mematuhi protokol kesehatan, Ketua Panitia, H Marah Sakti Siregar membatasi hanya boleh diisi maksimal 50 persen dari kapasitas yang ada.

Setiap hari, sebelum digunakan, tenda itu disemprot disinfektan. Adapun setiap jemaah diwanti-wanti panitia menggunakan masker. Lalu, saf salat mengambil jarak minimal 1,5 meter satu sama lain.

Selain salat tarawih, beberapa warga juga menggunakan tenda itu untuk salat Subuh dan salat Fardhu lainnya.

Sementara, menurut Marah Sakti, rencana pembangunan masjid At-Tabayyun akan mulai dilakukan tahun ini.

"Sempat tertunda satu tahun sejak pandemi. Padahal, SK Gubernur, IMB dan pembayaran penggunaan lahan Pemprov DKI itu sudah keluar sejak tahun lalu," tuturnya.

Marah Sakti menjelaskan, mayoritas warga non muslim memberikan pilihan lokasi pembangunan masjid. Ada dua opsi. Warga Muslim memilih lahan hijau terbuka seluas 1.078 meter persegi. Sedangkan, Warga Non Muslim menginginkan lahan seluas 314 meter persegi untuk masjid.

Lalu, masing masing pemrakarsa dan pengusul mengurus izin. Adapun yang sudah disetujui Gubernur DKI adalah lahan 1.078 M2 untuk pembangunan masjid.

Marah mengatakan, FKUB, atau Forum Kerukunan Umat Beragama Jakarta Barat juga sudah keluarkan rekomendasi untuk pembangunan Masjid At-Tabayyun.

"Tidak ada masalah, karena Pergub DKI tentang pembangunan Mesjid, hanya mensyaratkan dukungan 90 warga umat Muslim dan 60 tokoh masyarakat. Yang mendukung lebih dari itu," ujar Marah Sakti.