Tak Tepat Sasaran, Subsidi BBM Diminta Dialihkan ke Program Bansos

Merdeka.com - Merdeka.com - Ekonom sekaligus Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia (UI) Budi Frensidy mengusulkan anggaran subsidi energi untuk Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi jenis Pertalite maupun Solar dialihkan untuk subsidi bantuan langsung tunai (BLT).

Budi menilai, saat ini, skema subsidi energi yang diberikan pemerintah tidak tepat sasaran, sehingga menimbulkan ketidakadilan. Hal ini tercermin dari pengguna Pertalite yang mayoritas dinikmati oleh kelompok ekonomi mampu.

"Kalau sekarang (subsidi energi) tidak fair, yang menikmati, yang punya mobil. Pokoknya separuh lebih yang membeli Pertalite," ujarnya dalam acara Journalist Class OJK di Menara Radius Prawiro, Jakarta Pusat, Selasa (30/8).

Sebaliknya, subsidi BLT dapat langsung dirasakan manfaatnya oleh penerima manfaat, sehingga dapat menggerakkan perekonomian nasional secara lebih optimal. "Jadi, paling baik langsung ke penerimanya kelompok (ekonomi) bawah," ungkapnya.

Meski begitu, dia menekankan pengawasan terhadap penerima subsidi BLT termasuk menyulitkan. Untuk itu, pemerintah diminta lebih cermat dalam menyalurkan BLT agar tepat sasaran. "Karena memang secara ekonomi subsidi langsung itu baik," tutupnya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati mengungkap bahwa konsumsi bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis Pertalite maupun Solar di Indonesia belum tepat sasaran. Padahal, dalam APBN Perpres 98/2022 anggaran subsidi dan kompensasi energi dipatok Rp502,4 triliun.

Dia mencatat, proporsi konsumsi Pertalite 86 persen dinikmati kelompok rumah tangga (RT). Sedangkan, 14 persen di antaranya dikonsumsi oleh dunia usaha. "Dari yang dinikmati RT, ternyata 80 persen dinikmati oleh RT mampu dan 20 persen dinikmati oleh RT miskin," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers di Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (26/8).

Kondisi serupa juga terjadi pada Solar. Di mana, 89 persen dinikmati oleh dunia usaha dan 11 persen sisanya dinikmati oleh RT. [azz]