Tak Terekspos, Kedekatan Sri Mulyani dan Melinda Gates Tangani Ebola dan Covid-19

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawari ternyata memiliki kedekatan khusus dengan Melinda French atau yang akrab disapa Melinda Gates. Berkat hubungan baik antar keduanya, Indonesia bisa mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan vaksin Covid-19 di masa awal terjadinya pandemi.

Bukan pertama kali Sri Mulyani menangani masalah kesehatan dengan Melinda. Kasus ebola di Afrika Selatan beberapa tahun silam menjadi saksi kedekatan keduanya dalam urusan penanganan pandemi yang levelnya masih bisa dikendalikan.

"Saya dan Melinda kenal lama di World Bank. Waktu kita tangani ebola juga sama, kita mobilisasi negara-negara Afrika yang masih lemah," cerita Sri Mulyani dalam sebuah talkshow online, Jakarta, Selasa (28/12).

Keberhasilan kolaborasi keduanya menangani virus ebola membuat Sri Mulyani dan Melinda berniat mengulang sejarah yang sama. Lalu dibentuklah World Covid-19 Vaccine dengan tujuan yang tak jauh berbeda, memberikan akses vaksin kepada negara-negara miskin.

Dalam proyek tersebut, panggilan akrab Sri Mulyani lantas mengajukan Biofarma sebagai perusahaan farmasi asal Indonesia untuk turut bergabung. Tak sulit bagi Biofarma untuk masuk, lantaran nama beken perusahaan BUMN ini telah memproduksi vaksin polio dari WHO.

"Jadi Indonesia ini kita posisikan sebagai produsen, dari sisi funding-nya juga, kita siapkan, pokoknya siapa yang menemukan ini kita mau ikut berkontribusi untuk produksi," tutur Ani.

Saat itu, berbagai negara berlomba menemukan vaksin dari virus corona. Berbagai negara saat itu masih pada tahap uji klinis. Ani mengaku tidak sendiri untuk memperjuangkan kehadiran vaksin di Indonesia. Bersama kawan lamanya, Menteri Luar Negeri, Retno Edi Marsudi dia merancang strategi.

"Saya dari funding networking cukup kuat di sana, juga melaukan koneksi dengan pengalaman sebelumnya saat terjadi ebola," kata dia.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Pengadaan Vaksin

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam webinar Hadapi bersama Perubahan Iklim dan strategi Hijau, Selasa (14/12/2021).
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam webinar Hadapi bersama Perubahan Iklim dan strategi Hijau, Selasa (14/12/2021).

Baginya kala itu, penting bagi Indonesia memiliki posisi penting dan menjadi perhitungan dalam hal pengadaan vaksin. Dia meyakinkan diri jalan yang ditempuhnya membeli vaksin dari sejumlah perusahaan vaksin tak salah. Apalagi, Ani mengaku saat itu belum ada yang bisa memastikan keberhasilan vaksin tersebut menghalau serangan Covid-19.

"Kita akan beli vaksin tapi barangnya belum ada, ini bisa mencelakai di masa depan. Makanya dibuat peraturan presiden yang memuat klausul memngizinkan beli ini duluan," kata dia.

"Gambling-nya banyak banget, astrazeneca saja menawarkan kepada kita vaksin wanna be. Tapi Indonesia harus bilang kita akan order. Waktu itu dulu kita beli masih USD 6," sambungnya.

Kondisi tersebut harus dilalui Sri Mulyani bersama para menteri lainnya. Apalagi saat itu, vaksin seharusnya dibayarkan dengan APBN tahun anggaran 2020. Sementara diluar rencana ketersedian vaksin baru ada di Januar 2021. Mau tak mau, Sri Mulyani harus memutar otak untuk mendapatkan dana untuk membeli vaksin. Anggaran yang telah disiapkan pun tak bisa dipakai karena sudah melewati batas waktu penggunaan anggara.

Akhirnya dia pun melakukan refocusing anggaran kementerian/lembaga untuk menutupi kebutuhan dana membeli vaksin. Upaya burden sharing dengan Bank Indonesia juga dilakukan. Mengingat anggaran vaksin yang telah dialokasikan pada APBN 2021 masih tidak cukup.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel