Donald Trump Tolak Kemenangan Joe Biden atas Pilpres AS

Daurina Lestari, Dinia Adrianjara
·Bacaan 1 menit

VIVA – Presiden AS petahana, Donald Trump, menolak menyerahkan kemenangan pilpres kepada Joe Biden, bahkan setelah sebagian besar media di AS telah menyatakan Biden sebagai presiden terpilih. Trump mengatakan persaingan masih jauh dari kata selesai, dan dia siap menempuh jalur hukum.

"Fakta sederhananya adalah pemilihan ini masih jauh dari selesai. Joe Biden belum disertifikasi sebagai pemenang di negara bagian mana pun, apalagi negara bagian yang akan menghitung ulang atau di negara bagian di mana kampanye kami memiliki tantangan hukum," kata Trump dalam pernyataan yang dirilis tim kampanye, dilansir Independent, Sabtu 7 November 2020.

Dalam pernyataan itu, dia mengatakan tim kampanye akan mulai menuntut kasus di pengadilan untuk memastikan undang-undang pemilu ditegakkan sepenuhnya. Dia menyebut rakyat AS berhak atas pemilu yang jujur, di mana surat suara harus dihitung secara sah, dan tidak ada penghitungan ilegal.

Baca juga: Raih 290 Suara Elektoral, Joe Biden Menang Pemilu Amerika Serikat

"Ini adalah satu-satunya cara untuk memastikan publik memiliki kepercayaan penuh pada pemilu kami. Mengejutkan bahwa tim kampanye Biden menolak menyetujui prinsip dasar dan ingin surat suara dihitung bahkan jika palsu. Jadi apa yang disembunyikan Biden? Saya tidak akan berhenti sampai rakyat AS mendapat penghitungan suara yang jujur dan layak," tutur Trump.

Sementara itu dalam pernyataan terpisah, Biden mengatakan dia merasa terhormat atas kepercayaan yang diberikan rakyat AS kepada dia dan wakil presiden terpilih Kamala Harris.

"Dalam menghadapi rintangan yang belum pernah terjadi sebelumnya, sejumlah besar orang AS memberikan suara. Membuktikan sekali lagi bahwa demokrasi berdetak jauh di jantung Amerika," kata Biden.

Sebagai informasi, Joe Biden dari Partai Demokrat dipastikan memenangkan pemilu setelah mendapatkan total 290 suara Electoral College.

Berdasarkan penghitungan Fox News, Biden akan memenangkan negara bagian Nevada dan persemakmuran Pennsylvania, sehingga memberinya suara elektoral yang dibutuhkan untuk memenangkan Gedung Putih.