Taktik Cerdik Putin Agar Rusia Lebih Dulu Serang AS dengan Nuklir

Radhitya Andriansyah

VIVA – Hubungan Rusia dan Amerika Serikat (AS) berada dalam titik terendah pasca Perang Dingin berakhir pada 1991 silam. Ketegangan antara dua negara adikuasa di dunia, memungkinkan terjadinya perang nuklir mahadahsyat. 

Kabar terbaru, sebuah kebijakan diambil Presiden Rusia, Vladimir Putin, terkait penggunaan senjata nuklirnya. Menurut laporan Daily Mail, Putin baru saja mengesahkan sebuah kebijakan penggunaan senjata atom dalam merespons serangan konvensional.

Penjelasannya, jika ada serangan yang dilancarkan lawan ke sejumlah infrastruktur penting pemerintah dan militer, Rusia akan balas menyerang dengan senjata atom.

Hal ini juga disebut sejalan dengan doktrin militer Rusia, yang menegaskan kembali bahwa negara Eropa Timur itu bisa menggunakan senjata nuklirnya sebagai reaksi atas serangan yang mengancam kedaulatan negara.

Tak cuma itu, Rusia juga bisa menggunakan senjata nuklirnya meski belum diserang. Senjata nuklir Rusia bisa digunakan andai mendapat informasi yang dapat dipercaya, tentang peluncuran rudal balistik musuh yang akan diarahkan ke Rusia atau negara-negara sekutunya.

Kebijakan ini dianggap memberikan sinyal peringatan kepada AS untuk tidak main-main dengan Negeri Beruang Merah. Akan tetapi di sisi lain, kebijakan ini juga bisa memicu penggunaan senjata nuklir, tak hanya Rusia dan AS, tetapi juga sejumlah negara semisal China, Korea Utara, Inggris, dan Prancis.

Sejumlah insiden yang memicu ketegangan Rusia dan AS terjadi beberapa tahun belakangan. Mulai dari penyebaran pasukan AS dan latihan tempur NATO di Laut Baltik, penghadangan pesawat intai AS oleh jet tempur Angkatan Udara Rusia, Su-35, hingga ancaman AS menggunakan senjata nuklir andai pandemi Virus Corona (COVID-19) berujung perang.