Taktik penyusupan 'polisi mata-mata' Inggris dimejahijaukan

·Bacaan 4 menit

London (AFP) - Pada 2010, teman-teman memberi tahu Kate Wilson bahwa mantan pacarnya dan orang kepercayaannya Mark Stone yang dia temui dalam demonstrasi anti-G8, tidak pernah ada.

Stone sebenarnya petugas polisi Inggris yang nama aslinya adalah Mark Kennedy. Dia memiliki istri dan anak dan merupakan penyusup kelompok aktivis lingkungan yang berpengalaman.

Praktik kontroversial "polisi mata-mata" Inggris yang berlangsung puluhan akhirnya mendapat sorotan ketika sidang penyelidikan kasus ini dimulai pekan lalu setelah menunggu lima tahun.

Para korban berharap sidang penyelidikan itu akan mengungkap para petugas yang menggunakan identitas curian, termasuk anak-anak yang sudah mati, dan menjalin hubungan romantis selama bertahun-tahun untuk menyusup ke kelompok-kelompok aktivis.

"Benar-benar mengerikan, amat sangat sulit untuk dijelaskan," kata Wilson, perawat berusia 42 tahun, kepada AFP mengenai cobaan beratnya itu.

"Anda punya kenangan dan Anda punya rencana tentang kisah hidup Anda sendiri dan apa hubungan itu dan itu benar-benar hancur."

Lisa, nama samaran dari korban Kennedy lainnya yang telah menjalin hubungan dengan dia selama enam tahun, juga menemukan identitas aslinya pada 2010 setelah menemukan paspor aslinya.

"Dia adalah orang tempat saya berbagi segalanya," tulis dia dalam situs grup "Police Spies Out of Lives".

"Dia orang yang mendukung saya setelah ayah saya meninggal. Dia orang yang saya ajak berlibur."

Situs web itu dibuat untuk mendukung wanita-wanita seperti Lisa yang menderita apa yang mereka sebut "pelecehan seksual dan psikologis" di tangan polisi. Namun kisahnya bukanlah hal aneh.

Polisi yang menyamar "Bob Robinson" mendapatkan seorang putra dari Jacqui, seorang wanita muda yang percaya dia sama-sama mencintai binatang, satu tahun setelah mereka bertemu pada 1984.

Dia menghilang dua tahun kemudian setelah putranya lahir, dengan mengklaim bahwa dia sedang diburu oleh polisi; sebenarnya, dia baru saja menyelesaikan misinya.

Jacqui tidak mengetahui identitas aslinya sampai ada laporan surat kabar pada 2012.

Pengungkapan tentang "polisi mata-mata" Inggris dan sepak terjang mereka telah terekam selama sepuluh tahun terakhir.

Tetapi itu baru ketika kasus pembunuhan rasis paling terkenal di Inggris menjadi terlibat dalam saga itu, kasus itu meledak menjadi skandal besar-besaran.

Pada 2013, mantan penyusup Peter Francis mengatakan dia sudah memata-matai orang tua Stephen Lawrence, seorang pemuda kulit hitam yang dibunuh oleh geng kulit putih di London pada 1993, untuk mendiskreditkan mereka.

Dia mengatakan operasinya dilakukan setelah penyelidikan publik menyimpulkan penyelidikan awal Polisi Metropolitan London atas pembunuhan itu dicemari oleh "rasisme kelembagaan".

Lalu menteri dalam negeri yang kemudian menjadi perdana menteri Theresa May, melakukan penyelidikan publik pada 2015.

Tetapi sebagai akibat dari penundaan selama bertahun-tahun karena sifat buktinya yang sensitif dan kemudian pandemi virus corona, sidang pertama baru dimulai Senin lalu.

Kesimpulannya baru keluar 2023.

"Penyelidikan ini akan mencari kebenaran," kata David Barr, pengacara tim penyidik.

Menurut laporan media Inggris, paling tidak 139 petugas polisi telah menyusup ke lebih dari 1.000 kelompok sejak 1968 yang merupakan tahun di mana Scotland Yard menciptakan apa yang disebut Skuad Khusus Demonstrasi untuk memantau unjuk rasa menentang Perang Vietnam.

Kelompok-kelompok tersebut sebagian besar adalah sayap kiri -serikat buruh, organisasi lingkungan, dan asosiasi anti-rasis, pasifis atau feminis- tetapi kelompok sayap kanan juga menjadi sasaran.

Skuad itu dibubarkan pada 2008, demikian pula badan serupa, National Public Order Intelligence Unit, dua tahun kemudian.

"Beberapa dari kelompok itu, mereka sangat terpinggirkan, tingkat mereka sangat rendah sehingga operasi hampir tidak bisa dibenarkan," kata pengacara Lydia Dagostino yang mengoordinasikan pembelaan mereka yang menjadi sasaran, kepada AFP.

Orang-orang yang dimata-matai memiliki "keinginan tulus ... untuk mengetahui kebenaran ... agar hal itu tak terjadi lagi," kata Dagostino.

Beberapa wanita "sudah sangat dirugikan dan mereka tidak akan pernah bisa melupakannya", tambah dia.

Polisi meminta maaf kepada beberapa wanita pada 2015 sambil memberi mereka kompensasi finansial, dan pekan ini mengatakan bahwa seks dengan "target" tak lagi dibolehkan.

Infiltrasi kini didasarkan kepada "pedoman etika yang jelas dan kerangka legislatif", tambah mereka.

Tetapi itu tidak meredakan amarah Kate, salah satu dari banyak wanita yang berbagi kehidupan dengan Kennedy selama penempatan yang juga membawa pria itu ke Prancis, Jerman, dan Spanyol.

Dagostino mengatakan "manipulasi emosional" yang disengaja oleh agen adalah taktik umum, dan mengecam sidang yang tidak terbuka untuk umum atau disiarkan online itu sebagai upaya negara menutup-nutupi praktik ini.

Transkrip dipublikasikan secara online tetapi Dagostino mengatakan dia marah karena puluhan petugas polisi belum diidentifikasi, bahkan dari nama sampul mereka.


mpa/jwp/jj/phz/gd