Taliban Berkuasa, Pengungsi Afghanistan di Indonesia Khawatirkan Nasib Keluarganya

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Kondisi dan situasi di Afghanistan saat ini semakin tak karuan, terlebih sejak kelompok militan Taliban berkuasa.

Hal ini tak hanya membuat warga di sana kebingungan, namun juga bagi sejumlah pengungsi Afghanistan yang kini berada di luar negeri. Mereka mencemaskan nasib keluarganya di sana.

Misalnya saja Azis, pengungsi Afghanistan yang kini berada di Indonesia.

Melansir DW Indonesia, Jumat (20/8/2021), meski meninggalkan Afghanistan pada usia lima tahun, Afghanistan selalu memiliki tempat khusus di hati Azis. Ketika pasukan Taliban menguasai satu persatu wilayah Afghanistan hingga masuk ke ibu kota Kabul, Azis yang berasal dari minoritas Hazara itu merasa sangat khawatir terutama terkait keselamatan keluarga dan kerabatnya yang masih tinggal di negara itu.

"Situasi ini sangat berbahaya bagi kami, kaum Hazara, karena mereka tidak menyukai kami," kata pengungsi berusia 34 tahun itu, yang juga merupakan seorang pelatih futsal, versi sepak bola yang dimainkan di dalam ruangan dengan tim yang lebih kecil.

Dia dan istri serta anak-anaknya telah tinggal di Indonesia selama tujuh tahun terakhir. Tepatnya di Ciawi, sekitar 70 km dari ibu kota Jakarta. Sampai sekarang mereka masih menunggu relokasi ke negara ketiga.

Minoritas Hazara Jadi Sasaran Taliban

Pejuang Taliban menguasai Istana Kepresidenan Afghanistan di Kabul, Afghanistan, Minggu (15/8/2021). Taliban menduduki Istana Kepresidenan Afghanistan setelah Presiden Afghanistan Ashraf Ghani melarikan diri dari negara itu. (AP Photo/Zabi Karimi)
Pejuang Taliban menguasai Istana Kepresidenan Afghanistan di Kabul, Afghanistan, Minggu (15/8/2021). Taliban menduduki Istana Kepresidenan Afghanistan setelah Presiden Afghanistan Ashraf Ghani melarikan diri dari negara itu. (AP Photo/Zabi Karimi)

Saat diwawancara Azis meminta agar nama belakangnya tidak disebutkan karena khawatir dengan keselamatan keluarga besarnya di Afghanistan. Ia menceritakan bahwa keluarga pamannya telah mengunci diri di dalam rumah mereka sejak jatuhnya pemerintah Afghanistan menyusul pengambilalihan kekuasaan oleh Taliban.

"Mereka takut keluar rumah. Sekarang mereka mencari cara keluar dari Afghanistan, karena keluarga saya tidak merasa aman di sana," kata Azis.

Selama beberapa dekade, minoritas memang telah menjadi sasaran serangan kelompok militan, termasuk Taliban dan ISIS, karena keyakinan agama mereka.

Sebagian besar Hazara adalah Muslim Syiah, yang dibenci oleh kelompok garis keras Sunni seperti Taliban. Mereka telah menghadapi penganiayaan dan kekerasan selama beberapa dekade, termasuk serangan baru-baru ini terhadap rumah sakit bersalin dan sekolah-sekolah perempuan.

Terlepas dari jaminan Taliban bahwa mereka telah berubah sejak masa pemerintahan terakhir mereka, Azis tetap khawatir tentang situasi di negaranya. Di era pemerintahan Taliban tahun 1990an, olahraga dan musik dilarang, dan tidak ada kebebasan bagi perempuan seperti yang dinikmati perempuan Afghanistan dalam 20 tahun terakhir.

"Saya tidak tahu bagaimana masa depan sepak bola di Afghanistan. Bagaimana nasib perempuan, dan olahraga? Dan bagaimana dengan perempuan yang ingin sekolah?" katanya sambil menambahkan: "Saya berharap Afghanistan akan menjadi lebih baik, tapi saya tidak punya banyak harapan."

Infografis Kejatuhan dan Kebangkitan Taliban di Afghanistan:

Infografis Kejatuhan dan Kebangkitan Taliban di Afghanistan. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis Kejatuhan dan Kebangkitan Taliban di Afghanistan. (Liputan6.com/Abdillah)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel