Taliban Peringatkan AS Agar Tak Mendirikan Pangkalan Militer di Pakistan

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Karachi - Taliban dan pemerintahan resmi di Karachi memperingatkan Amerika Serikat agar tidak mendirikan pangkalan militer di wilayah Pakistan.

Pakistan juga menolak adanya operasi pesawat tak berawak di atas wilayahnya, demikian dikutip dari laman Daily Sabah, Kamis (27/5/2021).

Pernyataan itu muncul di tengah spekulasi bahwa Amerika Serikat menarik 2.500-3.500 tentaranya yang terakhir dari Afghanistan.

Peringatan itu juga mengemuka selama peningkatan upaya untuk memulai pembicaraan damai yang macet antara pemerintah dan Taliban.

Baik Pakistan dan Negara Timur Tengah telah mendesak Taliban untuk menghadiri pembicaraan di Turki. Pembicaraan yang disponsori PBB telah diadakan bulan lalu, tetapi Taliban menolak untuk ambil bagian.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Pakistan Shah Mehmood Qureshi pada Selasa 25 Mei 2021 mengatakan kepada Senat Pakistan bahwa negara itu tidak akan mengizinkan pendirian pangkalan Amerika di wilayahnya.

"Lupakan masa lalu, tapi saya ingin memberi tahu orang Pakistan bahwa tidak ada pangkalan AS yang akan diizinkan oleh Perdana Menteri Imran Khan selama dia berkuasa," katanya.

Setelah serangan teroris 11 September 2001, Pakistan membuka empat pangkalan udara bagi koalisi pimpinan AS untuk membantu upayanya di Afghanistan untuk memburu para pelaku serangan Al-Qaeda dan menggulingkan para penguasa Taliban.

Komitmen Joe Biden

Presiden Joe Biden berbicara selama Pelantikan di US Capitol di Washington, Rabu (20/1/2021). Joe Biden mengalahkan Donald Trump di pemilu AS 2020 dengan perolehan 81 juta suara. (AP Photo/Patrick Semansky, Pool)
Presiden Joe Biden berbicara selama Pelantikan di US Capitol di Washington, Rabu (20/1/2021). Joe Biden mengalahkan Donald Trump di pemilu AS 2020 dengan perolehan 81 juta suara. (AP Photo/Patrick Semansky, Pool)

Dalam pidatonya April 2021, Joe Biden mengatakan Washington akan menahan Taliban untuk memastikan Afghanistan tidak dapat lagi digunakan sebagai arena pementasan untuk menyerang Amerika Serikat atau sekutunya.

"Kami tidak akan mengalihkan pandangan kami dari ancaman teroris," kata Biden.

"Kami akan mengatur kembali kemampuan kontraterorisme kami dan aset substansial di kawasan untuk mencegah munculnya kembali ancaman teroris ke Tanah Air kami."

AS, bersama dengan sekitar 7.000 pasukan NATO akan meninggalkan Afghanistan paling lambat 11 September. Dalam sebuah pernyataan awal pekan ini, Komando Pusat AS mengatakan telah menyelesaikan sekitar 25 persen penarikan pasukan.

Logistik penarikan sangat luar biasa dan menurut pernyataan CENTCOM, pasukan yang berangkat telah mengemas peralatan militer ke 160 pesawat kargo C-17 dan mengirimnya kembali ke Amerika Serikat.

Selain mengangkut pasokannya melalui udara, Amerika Serikat juga memindahkan peralatan dari Afghanistan melalui Asia Tengah dan Pakistan.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel