Tambah Kuota Beasiswa Kedokteran, Kemenkes & Kemendikbud Perketat Proses Seleksi

Merdeka.com - Merdeka.com - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan kebutuhan dokter di Indonesia masih di bawah standar Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO 1/1.000 penduduk. Untuk mengejar standar tersebut, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) bekerja sama.

"Jumlah dokter yang dibutuhkan di Indonesia sekitar 270.000, sementara saat ini baru ada sebanyak 140.000. Artinya masih ada kekurangan dokter sebanyak 130.000," ujar Budi dikutip dari siaran pers Kemenkes, Rabu (13/7).

Budi menyebut, jumlah lulusan dokter di Indonesia per tahun hanya 12.000. Bila ingin mencapai target WHO, setidaknya butuh 10 tahun bahkan lebih bagi Indonesia untuk memproduksi dokter.

"Transformasi kesehatan kita bikin manusia kita sehat, di antaranya dengan pemenuhan dokter. WHO merekomendasikan pemenuhan dokter 1/1.000 populasi masyarakat Indonesia," tuturnya.

Sementara itu, Mendikbudristek Nadiem Makarim menilai perlu inisiatif transformasi yang lebih besar untuk mengakselerasi peningkatan kapasitas fakultas kedokteran, menghasilkan dokter umum, dan dokter spesialis.

"Hal itu sedang kami upayakan oleh komite bersama Kemendikbudristek dan Kemenkes melalui sistem kesehatan akademik yang mengedepankan kolaborasi pendidikan," ucap Nadiem.

Salah satu yang disepakati adalah peningkatan kuota penerimaan mahasiswa sarjana kedokteran. Nadiem menilai itu adalah prinsip dasar perubahan transformasi kesehatan.

Sebagai tindak lanjut meningkatkan kuota penerimaan mahasiswa sarjana kedokteran, Kemendikbudristek dan Kemenkes melakukan penandatanganan Surat Keputusan Bersama (SKB) pada Selasa (12/7) kemarin. SKB ini tentang Peningkatan Kuota Penerimaan Mahasiswa Program Sarjana Kedokteran, Program Dokter Spesialis, dan Penambahan Program Studi Dokter Spesialis melalui Sistem Kesehatan Akademik.

Nadiem mengaku berkomitmen mempercepat pemenuhan dosen yang berasal dari rumah sakit pendidikan dengan berbagai macam inisiatif. Antara lain mengupayakan percepatan pengusulan nomor induk dosen khusus (NIDK), memberikan penugasan dan bimbingan teknis kepada perguruan tinggi yang diberi tugas membuka prodi baru dokter spesialis, dan memberikan beasiswa LPDP untuk mahasiswa program dokter spesialis.

Selanjutnya, Kemendikbudristek akan memperkuat kebijakan sistem seleksi mahasiswa dan penjaminan mutu kelulusan melalui uji kompetensi sesuai standar nasional pendidikan kedokteran, menyusun kebijakan untuk menjamin pemenuhan mahasiswa kedokteran dengan komite bersama khususnya untuk perlindungan dari segala bentuk perundungan dan seksual. Selain itu kebijakan ini mengatur juga tentang pengaturan beban kerja, hingga pemberian insentif untuk mahasiswa program dokter spesialis yang mendukung pelayanan di RS pendidikan. [rnd]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel