Tambah Stok Pangan Nasional, Petani Gunung Kidul Panen Raya Palawija

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Pertanian (Kementan) meminta segenap jajarannya agar memantau produksi sektor pertanian selama masa pandemi virus corona covid-19. Memasuki masa panen raya Maret-April, petani harus dipastikan memperoleh juga harga jual yang layak, sehingga terjaga kesejahteraannya.

Pantauan dari lapangan, kini sejumlah Desa di Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta sedang menggelar panen raya palawijaya, seperti kacang tanah dan jagung. Panen ini merupakan panen kedua setelah sebelumnya para petani juga memanen komoditi yang sama dengan hasil yang memuaskan.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunung Kidul, Bambang Wisnu Broto menyampaikan bahwa kacang dan jagung adalah dua komoditas unggulan Gunung Kidul yang menjadi andalan kebutuhan nasional.

"Walaupun panennya musim hujan yang tidak menentu, tapi kita harus bersyukur bahwa hasil ini cukup memuaskan. Tentu ke depan, kita akan pacu lagi dengan berbagai program yang ada agar hasil panennya meningkat," kata Bambang dari keterangan yang diterima liputan6.com, Jakarta, Selasa (24/3/2020).

Lanjut Bambang, hasil ubinan kacang yang dihasilkan petani kurang lebih mencapai 16,5 kuintal wose per hektare yang ditanam di atas lahan monokultur seluas 50 hektare.

"Sedangkan untuk jagung ubinan yang ditanam dengan metode tumpang sari di lahan 146 Hektar totalnya mencapai 11 kilogram tongkol atau sekitar 9,8 ton pipil kering per hektare," katanya.

 

 

 

Petani Untung

Jagung yang dipanen di Desa Kalawara, Kecamatan Gumbasa, Sigi, Sulawesi Tengah (Liputan6.com/Giovani Dio Prasasti)

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Manunggal Karya Kanigoro, Nyoto menambahkan bahwa keuntungan yang diperoleh mencapai puluhan juta rupiah untuk area lahan satu hektare.

"Karena itu, saya berharap pemerintah mampu menyediakan alat bantu seperti Power theser Multiguna atau mesin perontok untuk memudahkan produksi dengan jumlah yang banyak," kata Karya.

Selain itu, diharapakan semua hasil panen yang ada dapat dijual ke dalam bentuk wose, dikarenakan perhitungan analisa usaha tani dalam satu hektar dengan produksi 16,5 kuintal wose yang dijual seharga Rp 25.000 perkilogram.

Sehingga dari hasil panen ini, petani bisa mendapatkan pendapatan bersih sebesar Rp 25.192.000 perhektare. Namun jika dijual gelondong kering dengan harga Rp 13.000 perkilogram hanya mendapatkan pendapatan bersih sebesar Rp 19.495.000 perhektare.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: