Tampil Cetar ala Jemaah Bugis, Wujud Syukur Selesai Berhaji

Merdeka.com - Merdeka.com - Berhaji, menunaikan rukun Islam kelima adalah impian semua umat Islam dari berbagai belahan dunia. Tidak terkecuali Indonesia. Maka sungguhlah bahagia, ketika panggilan itu nyata di depan mata.

Puji dan syukur tidak hentinya terpanjat. Rasa yang wajar memang. Sebab penantian puluhan tahun butuh kesabaran. Berharap perjalanan dihujani keberkahan dan kemabruran.

Kebahagiaan makin tak terbendung. Tatkala rangkaian ibadah haji selesai dilaksanakan. Dalam keadaan sehat walafiat. Tinggal menunggu waktu kepulangan tiba setelah 42 hari di Tanah Suci.

Ragam cara ditunjukkan jemaah sebagai penanda tunai berhaji. Seperti dilakukan sejumlah jemaah haji asal Bugis, Sulawesi Selatan.

Sejak dari Tanah Air, jemaah wanita membawa baju berbentuk jubah mewah dan songkok. Kian menarik karena corak dan warnanya yang mencolok.

Nantinya, ketika mendarat di Tanah Air, jemaah akan menambah polesan make up di wajah mereka agar semakin mempesona.

Tidak ada nama pasti soal tradisi ini. Tetapi telah turun temurun dilakukan pendahulu mereka yang pergi haji dan akan pulang ke kampung halaman.

"Ini tradisi orang Bugis. Tidak semua orangkan bisa ke haji makanya ketika pulang ke Tanah Air dalam keadaan sehat dan selamat, kita pakai begini, selain ingin tampil beda, rasa syukur karena sehat," kata Salmah (56) jemaah asal kloter UPG 7, saat ditemui tim Media Center Haji (MCH) 2022, di Madinah.

Salmah merinci apa-apa yang dia pakai. Yakni taliti berbentuk topi penutup kepala. Di atasnya ada kain kerudung menutup topi disebut Mispah dan kain berbentuk jubah disebut Kabe. Tak lupa perhiasan berupa gelang, anting dan kalung melengkapi penampilan cantik mereka. Bahkan untuk sang suami, juga akan memakai baju gamis dan memakai sorban layaknya pria Arab berpakaian.

"Kadang kita tambah kacamata. Dengan begini, ketika turun pesawat keluarga sudah lihat itu orang tua kita," katanya sambil tersenyum.

Ibu Salmah sengaja membeli khusus baju yang akan dipakainya menuju ke rumah sejak dari Makassar. Katanya, baju akan diganti ketika pesawat akan mendekati landing.

"Make-up nya juga di pesawat," ucapnya tersipu.

Salmah mengaku bersyukur bersama suami bisa sampai ke Tanah Suci. Dia juga bahagia, seluruh ibadah berjalan lancar selama di Tanah Suci. Ditambah lagi, bisa kembali ke rumah dalam keadaan sehat.

"Tentu senang mau pulang, tapi ada rasa sedih juga akan meninggalkan kota Rasulullah. Sudah bertahun-tahun rindu melihat makam Rasulullah, lalu ke sini dan sekarang tahunya sudah harus pulang," ungkapnya.

Tampilan serupa Salmah juga dipersiapkan sejumlah jemaah lain.

Kasmah (51), jemaah asal Kolaka mengaku sudah mempersiapkan baju kain renda yang akan dipakai ketika pesawat akan mendarat di Makassar. Baju itu akan terus dipakai, hingga dia sampai ke rumah. Dia membawa baju renda berwarna kuning tua, juga kerudung dari brokat panjang.

"Ini menjadi ciri khas orang Bugis, tapi tidak dipakai di sini. Ini sudah ada sejak dari orang tua kita dari dulu," katanya.

Hasbiah pun demikian. Jubah kabe warna emas dipadu tutup kepala merah menyala sudah dipersiapkan ke kampungnya di Kolaka. Meski tak bisa menjelaskan awal mula tradisi ini, dia hanya ingat pesan dari orangtuanya.

"Pesan orang tua pakai tradisi ini sebagai penanda orang yang baru pulang haji. Sudah beda kan dengan sebelumnya," tutup Hasbiah malu-malu. [cob]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel