Tampilkan Alat Musik Tempo Dulu, Sound of Borobudur Bikin Takjub Gubernur Ganjar

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta Pertunjukkan musik bertajuk “Sound of Borobudur” yang berlangsung di Omah Mbudur, kompleks Candi Borobudur pada hari Kamis (8/4) mendapat apresiasi dari Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang hadir di lokasi. Salah satunya adalah penampilan para musisi ternama Tanah Air dengan alat-alat musik tempo dulu yang jarang ditemukan dan dimainkan.

Musisi-musisi hebat sekelas Purwatjaraka, Trie Utami, Dewa Budjana dan lainnya, tampil di Sound of Borobudur alat-alat musik tempo dulu yang terukir di dinding Candi Borobudur. Setelah melalui riset panjang, alat musik yang ada itu berhasil dibuat, berbunyi dan bisa disatukan dalam sebuah orkestrasi.

Musik yang mungkin terdengar aneh itu nyatanya menghasilkan iramanya yang merdu dan membuat tubuh penonton yang hadir tak sadar bergoyang, termasuk Ganjar Pranowo. Dewa Budjana mengatakan penampilannya merupakan kelanjutan dari project yang dimulai lima tahun lalu.

"Ini kelanjutan dari project kami lima tahun lalu, ketika saya diajak ke sini dan mendapat pengetahuan bahwa relief di Candi Borobudur ternyata menyimpan banyak sekali pengetahuan. Candi Borobudur seperti perpustakaan, yang semuanya ada di sini termasuk seni," kata Dewa Budjana.

Dari situlah, ia bersama Trie Utami tergerak untuk mencoba mereplika alat musik yang ada di relief itu. Setelah terbentuk, ia berusaha untuk membunyikannya, tentu dengan cara dan metode zaman sekarang.

"Itu cukup lama prosesnya, akhirnya dapat komposisi dan kita garap serius. Meskipun kami sadar, terkait bunyi itu interpretasi saat ini, karena peradaban itu tidak mungkin diulang lagi," jelasnya.

Ratusan Alat Musik Tergambar di Relief Candi Borobudur

Pertunjukan Sound of Borobudur di Omah Mbudur, kompleks Candi Borobudur.
Pertunjukan Sound of Borobudur di Omah Mbudur, kompleks Candi Borobudur.

Dewa menerangkan, ada ratusan alat musik yang tergambar di relief Candi Borobudur. Diantara alat musik itu juga ada yang bukan dari Jawa Tengah, melainkan dari Kalimantan bahkan ada yang dari Thailand atau India.

"Dari situ kami menduga, Borobudur merupakan pusat seni dunia. Atau kalau tidak, disini merupakan pusat berkumpulnya seniman-seniman dari seluruh dunia, dengan alat-alat musik yang berbeda. Mungkin zaman dulu di sini pernah ada konser besar seluruh dunia," terangnya.

Dengan temuan itu, maka Dewa mendukung pengembangan kawasan Borobudur tidak fokus pada pembangunan fisik. Namun, pembangunan juga harus diikuti dengan menggali nilai-nilai historis yang ada di candi itu.

"Apa yang ada di Borobudur itu sangat kaya. Kalau saya masih melihat dari sisi seni saja, tentu orang lain melihat dari dimensi yang berbeda," pungkasnya.

Ganjar Dukung Borobudur Sebagai Pusat Kesenian Dunia

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menghadiri pertunjukan Sound of Borobudur di Omah Mbudur, kompleks Candi Borobudur.
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menghadiri pertunjukan Sound of Borobudur di Omah Mbudur, kompleks Candi Borobudur.

Sementara itu, Ganjar mengatakan Sound of Borobudur adalah karya seni yang dihasilkan musisi-musisi handal yang tergolong nekat. Purwatjaraka, Trie Utami, Dewa Budjana dan sejumlah seniman sekaligus ilmuwan yang meneliti ini, menghasilkan karya yang luar biasa.

"Ini karya luar biasa. Ada beberapa orang nekat, kang Purwa, mbak Iik, mas Dewa mengeksplor Candi Borobudur dan menemukan alat-alat musik di relief-relief itu. Mereka kemudian berusaha membuat replikanya, menemukan bunyinya dan sekarang jadi komposisi yang luar biasa. Mungkin hipotesisnya benar, bahwa Borobudur adalah pusat musik dunia. Kita ingin mewujudkan itu," kata Ganjar.

Ganjar menegaskan akan mendukung upaya menjadikan Borobudur sebagai pusat kesenian dunia. Dengan temuan para musisi-musisi itu, ia yakin bahwa Sound of Borobudur akan memperkaya dan menambah daya tarik kawasan ini.

"Ini baru dari sisi seninya, belum arsitektur, lingkungan, habitat, relasi sosial dan lainnya. Menurut saya ini kesuksesan penemuan kembali peralatan musik di Candi Borobudur dan menunjukkan bahwa candi ini merupakan pusat peradaban yang sebenarnya," tegasnya.

Untuk itu dirinya sepakat, bahwa pengembangan kawasan Borobudur tidak boleh hanya fokus pada pembangunan fisik semata. Orang mungkin akan bosan berkunjung ke Borobudur, kalau yang dijual hanya candi dan bangunan-bangunan lain.

"Ini yang perlu kita angkat, mungkin ke depan tidak perlu membuat hal baru di sini, cukup mewujudkan apa yang ada di relief candi itu dijadikan sebuah pertunjukan menarik. Tidak menutup kemungkinan nanti tarian-tarian yang terpahat di relief itu bisa digerakkan di kehidupan nyata. Maka orang yang wisata nanti akan betah, karena akan mendapatkan soul nya," pungkasnya.

(*)