Tanah Bekas Makam Cina Diperjualbelikan, Gibran Buru Pelaku

Merdeka.com - Merdeka.com - Tanah milik Pemerintah Kota (Pemkot) Solo di bekas makam Cina atau Bong Mojo, RW 23 Jebres, dibangun warga untuk permukiman. Padahal lahan tersebut dipersiapkan untuk pasar mebel yang semula ada di daerah Gilingan.

Wali Kota Solo Gibran Rakabumig Raka menyatakan tanah itu diperjualbelikan secara ilegal. Pihaknya sudah menengarai sejumlah orang sebagai pelakunya.

"Kita sudah dapat dua nama yang memperjualbelikan tanah di Bong Mojo. Kita segera menindaklanjuti kasus tersebut jual beli ilegal tersebut," ujar Gibran di Balai Kota Solo, Rabu (13/7).

Pemkot Solo Kumpulkan Bukti

Putra pertama Presiden Jokowi mengaku telah memerintahkan lurah, camat dan Dinas Perkim agar mengingatkan keluarga yang sudah terlanjur membeli tanah dan mendirikan bangunan di lokasi itu. "Intinya tanah ini kan milik pemerintah. Jadi tidak bisa seenaknya membuat bangunan permanen di situ," tandasnya.

Gibran menambahkan, Pemkot Solo saat ini tengah mengumpulkan bukti pembayaran atas tanah tersebut. Dia menyebut, tanah Bong Mojo itu diperjualbelikan dengan harga Rp8 juta sampai Rp10 juta per kapling.

"Ono sing (ada yang harga) Rp 8juta, ono sing iki," katanya.

Lurah Mengaku Sudah Mengingatkan

Terpisah, Lurah Jebres Lanang Aji Laksito membenarkan adanya proses jual-beli tanah yang terjadi di kawasan Bong Mojo. Pihaknya mendapatkan laporan dari warga terkait tindak ilegal itu.

Warga itu ditawari tanah di lokasi Bong Mojo sebelah barat dengan harga Rp10 juta per kapling."Kemarin itu ada warga kami yang melapor ditawari tanah di sana. Terus saya bilang itu tanah milik Pemkot, jangan, diperhatikan, kalau nekat Anda tanggung sendiri risikonya," tandasnya.

Lanang menambahkan, masyarakat yang tinggal di sekitar makan Cina tersebut merupakan warga wilayah RW 23, Kelurahan Jebres, Jebres, Solo. "Hunian itu tidak ada RTnya. Mereka tidak masuk sebagai warga RW 23," tutupnya. [yan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel