Tanah Desa Ambles, 20 Keluarga Diungsikan

TEMPO.CO, Sumenep - Sebanyak 20 kepala keluarga di Desa Matanair, Kecamatan Rubaru, dan Desa Kecer, Kecamatan Dasuk, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, diungsikan karena tanah di sekitar rumah mereka ambles sedalam 6 meter.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumenep Fadillah menjelaskan, warga harus dipindahkan ke pos pengungsian karena masih terjadi pergerakan tanah di kedua desa tersebut. Hal itu diperkuat hasil penelitian tim geologi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

»Untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk, warga harus kami ungsikan, Apalagi saat ini masih terus turun hujan," kata Fadillah, Rabu, 19 Juni 2013.

Menurut Fadillah, posko pengungsian yang sudah dibangun juga akan dipindahkan ke tempat lain karena tidak aman dari retakan tanah. "Tanah yang retak rawan ambles," ujarnya.

Sebelumnya, menurut ahli geologi dan konsultan kajian resiko bencana BNPB Petrus Mariono, berdasarkan hasil penelitian timnya, terungkap bahwa amblesnya tanah di dua desa tersebut karena ada aliran sungai di bawah tanah.

Hujan deras yang menguyur Kabupaten Sumenep belakangan ini, kata Petrus, mempercepat proses pergerakan tanah. "Awalnya retakan cuma 20 centimeter. Sekarang sudah 6 meter," ucapnya memaparkan.

Kedalam amblesan tanah di dua desa tersebut juga terus bertambah. Pada Jum’at pekan lalu baru mencapai 20 centimter. Namun dalam waktu 3 hari kemudian, kedalamannya sudah mencapai 5 hingga 6 meter. ”Semakin sering turun hujan akan mempercepat pergerakan tanah dan menambah kedalaman amblesnya,” tutur Petrus.

MUSTHOFA BISRI

 Terhangat:

EDSUS HUT Jakarta | Kenaikan Harga BBM | Rusuh KJRI Jeddah

Baca juga:

Soal Macet, Jokowi-Ahok Lupakan Hal Sederhana?

Jokowi Sebut BLSM dengan Balsem

Jokowi Ternyata Pernah Dagang di PRJ

Nilai Kinerja Transportasi Jokowi: Niat 8, Hasil 6

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.